Di Argentina, potongan kardus yang biasanya dibuang menjadi bahan untuk menghadirkan kembali dinosaurus yang telah punah. Lewat proyek PaleoCartón, seniman dan ahli paleontologi Santiago Reuil merakit karya yang mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan keterampilan artistik.
Salah satu model terbaru proyek ini adalah tengkorak Koleken inakayali, dinosaurus karnivora yang ditemukan di Patagonia. Bentuknya bukan sekadar pajangan: karya tersebut menawarkan gambaran utuh dari tengkorak yang, dalam kenyataannya, kini hanya diketahui melalui beberapa fragmen.
Reuil, yang telah berkecimpung di bidang paleontologi selama lebih dari 30 tahun, menyebut karya-karya itu sebagai upaya merangkum pengetahuan tentang hewan purba. Dalam proses kreatif tersebut, bukti yang tersedia dan hipotesis ilmiah bertemu untuk membentuk representasi yang dapat dilihat dan dipegang.
Kardus menyatukan bukti dan rekonstruksi
“Tujuan saya adalah menciptakan karya spesifik yang mensintesis semua pengetahuan,” kata Reuil. Ia menjelaskan, melalui karya itu, bukti dan hipotesis dapat dipertemukan sehingga orang bisa memegang versi tengkorak yang saat ini hanya berupa beberapa fragmen.
Pernyataan itu menggambarkan tantangan dalam membuat model dinosaurus dari bahan yang dibuang. Bentuk yang ditampilkan tidak semata-mata menyalin fosil utuh, sebab pada contoh Koleken inakayali, bagian yang tersisa hanya beberapa fragmen. Karya Reuil menjadi representasi berdasarkan pengetahuan yang tersedia, bukan fosil asli yang kembali hidup.
Diego Pol, paleontolog di Museum Ilmu Pengetahuan Alam Argentina, menilai Reuil mampu memanfaatkan kardus yang mudah didapat untuk menciptakan karya yang merepresentasikan tengkorak hewan yang hidup lebih dari 100 juta tahun lalu secara akurat. Penilaian itu menempatkan bahan sederhana sebagai medium untuk menyampaikan informasi tentang kehidupan prasejarah.
PaleoCartón mendorong kreativitas dan sains
PaleoCartón diluncurkan pada Desember 2017. Sejak itu, proyek tersebut telah menghasilkan lebih dari 50 karya. Jumlah itu menunjukkan bahwa kardus bukan hanya dipakai untuk satu model, melainkan menjadi bahan dalam rangkaian kreasi yang mengangkat dinosaurus dan pengetahuan paleontologi.
Proyek ini juga menyertakan video instruksional dan kegiatan praktik langsung. Dengan cara tersebut, orang dapat mengikuti proses pembuatan sekaligus berinteraksi dengan gagasan ilmiah yang menjadi dasar karya. Kegiatan itu menghubungkan penggunaan kembali material dengan kreativitas dan kecintaan terhadap sains.
Pendekatan PaleoCartón membuat sisa bahan sehari-hari hadir dalam konteks yang berbeda: bukan lagi sekadar barang buangan, melainkan bahan untuk membayangkan kembali hewan purba. Namun, yang ditampilkan tetap merupakan karya rekonstruksi; dinosaurusnya tidak benar-benar dihidupkan kembali.
Melalui model seperti tengkorak Koleken inakayali, proyek ini memperlihatkan bagaimana seni dapat membantu menyampaikan pengetahuan tentang masa lalu. Video dan kegiatan praktik yang disediakan juga membuka jalan bagi orang untuk mengenal proses kreatifnya secara langsung. Kardus yang mudah ditemukan pun menjadi pintu masuk untuk membicarakan paleontologi, penggunaan ulang bahan, dan cara bukti ilmiah membentuk gambaran tentang makhluk yang telah lama punah.
