Indonesia pernah mengalami salah satu kebakaran hutan dan lahan terbesar di dunia. Pada 1997-1998, sekitar 9,7 juta hektare lahan terbakar, sementara kebakaran di Australia pada 1974-1975 menjadi yang terluas dalam daftar yang dirujuk Britannica, dengan area terdampak mencapai 117 juta hektare.
Skala kebakaran di berbagai negara itu menunjukkan bahwa karhutla dapat menimbulkan dampak jauh melampaui lokasi api. Asap beracun bisa bertahan di udara, sedangkan kebakaran yang tak terkendali merusak permukiman, infrastruktur, dan ekosistem. Namun, api juga dapat terjadi secara alami dan menjadi bagian dari ekosistem ketika dipicu musim kering atau petir.
Enam kebakaran hutan dengan area terdampak terbesar
Australia mencatat kebakaran terluas dalam daftar tersebut pada 1974-1975. Api menghanguskan sekitar 117 juta hektare, setara dengan 15 persen dari total daratan negara itu. Sebagian besar kobaran berada di kawasan tengah Australia yang umumnya tidak berpenghuni. Meski demikian, enam orang meninggal dunia, sementara sistem komunikasi, fasilitas pertanian, dan infrastruktur lain rusak.
Kebakaran besar juga melanda wilayah timur Rusia dan meluas ke China serta Mongolia. Area yang terbakar diperkirakan mencapai 22,5 juta hektare. NASA melaporkan asapnya membubung hingga sekitar lima kilometer di atas permukaan tanah. Kebakaran terjadi ketika suhu udara sangat tinggi, setelah wilayah itu juga mencatat kebakaran pada tahun sebelumnya. Tidak ada korban jiwa yang dikonfirmasi.
Australia kembali dilanda kebakaran hebat pada musim panas 2019-2020, saat pandemi COVID-19. Sekitar 19 juta hektare lahan terbakar. Musim panas yang disebut sebagai salah satu yang terkering dan terpanas mempercepat penyebaran api. Sebanyak 33 orang meninggal dunia dan diperkirakan satu miliar hewan tewas.
Rusia mengalami kebakaran besar lagi pada 2021, dengan sekitar 18,2 juta hektare lahan terbakar. Peristiwa itu menjadi kebakaran paling merusak yang pernah tercatat di negara tersebut. Sejumlah organisasi memperkirakan sekitar 90 persen kebakaran dipicu aktivitas manusia, termasuk persoalan saluran listrik dan kegiatan berkemah. Tidak ada korban jiwa yang dikonfirmasi.
Kanada dan kebakaran lintas perbatasan
Pada 2023, kebakaran hutan di Kanada menghanguskan sekitar 15 juta hektare. Kekeringan dan panas ekstrem membuat titik api mudah menyebar. Delapan petugas pemadam kebakaran meninggal dunia, sementara ratusan ribu warga terpaksa mengungsi.
Peristiwa besar lainnya terjadi di sepanjang kedua sisi Sungai Naga Hitam, yang menjadi batas antara China dan Rusia. Api melalap lebih dari 1,3 juta hektare di sisi China dan sekitar enam juta hektare di sisi Rusia. Dampaknya berat: sekitar 200 orang meninggal dunia dan puluhan ribu kehilangan rumah.
Angka-angka luas kebakaran tersebut menggambarkan besarnya wilayah terdampak, tetapi tidak selalu memberi gambaran utuh tentang kerusakan. Jumlah korban, paparan asap, kehilangan tempat tinggal, serta rusaknya fasilitas dan mata pencaharian juga menjadi ukuran penting dalam melihat dampak karhutla.
Indonesia pernah mengalami karhutla 9,7 juta hektare
Kebakaran hutan dan lahan Indonesia pada 1997-1998 diperkirakan mencapai 9,7 juta hektare. Angka itu berasal dari laporan European Commission Joint Research Centre, Bank Dunia, dan UNEP. Besarnya area terbakar membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami kebakaran hutan sangat luas, meski kebakaran tersebut tidak termasuk dalam enam peristiwa internasional yang disebutkan di atas.
El Niño dan kemarau panjang menjadi salah satu pemicu. Namun, laporan Center for International Forestry Research menyebut sebagian besar titik api berasal dari aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan dengan cara membakar untuk perkebunan dan pertanian.
Asap pekat menyelimuti Kalimantan selama berbulan-bulan dan menyebar ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand bagian selatan, serta Filipina. Menurut Bank Dunia, kerugian ekonomi akibat kebakaran itu diperkirakan mencapai sekitar 4,5 miliar dollar AS, atau lebih dari Rp 70 triliun jika menggunakan kurs saat itu.
Catatan yang lebih baru dalam bahan sumber menunjukkan kebakaran di Indonesia mencapai sekitar 202 ribu hektare pada Januari-Juli 2026, berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan. Angka tersebut masih dapat bertambah karena karhutla dilaporkan terus terjadi hingga Oktober 2026. Riwayat kebakaran besar Indonesia menjadi pengingat bahwa pencegahan dan penanganan kebakaran perlu terus diperkuat, terutama ketika kondisi kering dan panas meningkatkan risiko.


