Peter Steinberger, kreator OpenClaw, mengungkap penggunaan token AI senilai sekitar 10 juta dollar AS dalam sebulan. Nilainya setara kira-kira Rp160 miliar. Pengeluaran itu bukan berasal dari kantong pribadi Steinberger, melainkan dari anggaran OpenAI, tempat ia bekerja mengembangkan agen AI personal generasi berikutnya sejak Februari 2026.
Besarnya angka tersebut mengangkat pertanyaan yang lebih luas daripada kemampuan sebuah agen AI: berapa banyak sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankannya, dan bagaimana perusahaan mengawasi penggunaannya? Pengakuan itu disampaikan dalam perbincangan dengan Dane Knecht, CTO Cloudflare, pada konferensi Cloudflare Connect 2026 di San Francisco. Telset.id melaporkan pernyataan tersebut sebagai bagian dari diskusi mengenai pengembangan agen AI.
Anggaran besar bukan pengeluaran pribadi
Steinberger menyebut nilai token yang dipakai mencapai sekitar 10 juta dollar AS selama satu bulan. Namun, konteks pendanaannya penting. Ia kini bekerja di OpenAI, sehingga anggaran tersebut merupakan sumber daya perusahaan, bukan biaya pribadi yang ia keluarkan untuk menjalankan OpenClaw.
Knecht menyinggung besarnya kuota yang tersedia bagi Steinberger. Ia menggambarkannya sebagai
“anggaran token yang praktis tak terbatas, yang tidak dimiliki semua orang di ruangan ini.”
Pernyataan itu menyoroti perbedaan akses antara pengembang yang bekerja dengan dukungan anggaran perusahaan besar dan pengguna yang menjalankan agen AI dengan sumber daya lebih terbatas.
Angka penggunaan itu juga belum menjawab seberapa banyak token yang menghasilkan pekerjaan berguna. Knecht mengingatkan bahwa tidak seluruh token yang digunakan otomatis memberi manfaat. Dengan kata lain, nilai pengeluaran yang besar tidak serta-merta menjadi ukuran keberhasilan sistem. Efisiensi pemakaian dan hasil yang diperoleh tetap menjadi bagian dari persoalan.
Pengakuan tersebut muncul saat OpenAI, menurut laporan Telset.id, berharap memperbaiki pendanaannya dalam beberapa bulan mendatang. Pada saat yang sama, Anthropic dikabarkan tengah merencanakan penawaran saham perdana atau IPO. Latar itu membuat pembicaraan tentang biaya komputasi perusahaan AI berkaitan erat dengan pengelolaan dana dan pertanggungjawaban kepada investor.
Infrastruktur cloud belum dianggap siap
Di luar nominal token, Steinberger juga menyoroti hambatan infrastruktur. Ia menilai layanan cloud belum sepenuhnya mendukung pengalaman agen AI yang lancar, sehingga pekerjaan masih bergantung pada komputer pengguna. Menurutnya, sistem semacam itu semestinya dapat dijalankan tanpa pengguna harus berhadapan dengan kendala teknis yang tidak perlu.
“Saya rasa tantangan utama yang masih dihadapi banyak orang adalah infrastruktur kita belum benar-benar mengejar ketertinggalan,” kata Steinberger.
Ia mempertanyakan mengapa proses tersebut masih harus berlangsung di komputer lokal, bukan sepenuhnya ditangani cloud. Pandangan itu mengarah pada kebutuhan infrastruktur yang mampu menjalankan agen secara lebih mulus. Namun, sumber daya komputasi yang lebih mudah diakses juga berkaitan dengan biaya, seperti tercermin dalam klaim penggunaan token bernilai jutaan dollar itu.
Perdebatan tentang cloud juga bersinggungan dengan pilihan menjalankan OpenClaw secara mandiri. Pengguna yang mengelola sistem sendiri dapat lebih mengendalikan infrastruktur dan privasi data, tetapi pengoperasian agen tetap menuntut pengaturan teknis. Bahan yang dilaporkan Telset.id tidak merinci besaran biaya untuk penggunaan mandiri, sehingga angka Steinberger tidak bisa langsung dijadikan patokan pengeluaran pengguna umum.
Agen AI diperkirakan bekerja berlapis
Steinberger memperkirakan agen AI kelak dapat bekerja terus-menerus untuk membantu pengguna, bahkan mengantisipasi kebutuhan tanpa harus menunggu pertanyaan. Ia juga melihat kemungkinan orang memakai lebih dari satu agen. Satu sistem dapat menjalankan tugas, sedangkan sistem lain menilai apakah tindakan itu layak dilakukan.
Model pengawasan berlapis tersebut, menurut Steinberger, dapat meningkatkan keyakinan untuk membiarkan agen mengerjakan sesuatu secara mandiri. Agen pemeriksa bisa menilai batas yang perlu ditaati atau menyarankan cara yang lebih sederhana. Ini bukan hanya soal kecerdasan model, tetapi juga bagaimana keputusan agen dibatasi dan diperiksa sebelum tindakan dijalankan.
Gagasan itu sejalan dengan kebutuhan kontrol yang juga dibahas dalam konteks keamanan sistem berbasis AI. Namun, penggunaan beberapa agen sekaligus berpotensi menambah kebutuhan komputasi. Klaim biaya Steinberger memberi gambaran tentang besarnya konsumsi sumber daya pada skala pengembangan perusahaan, meski tidak menjelaskan secara rinci jenis pekerjaan yang menghasilkan jumlah tersebut.
Bagi OpenAI, besarnya anggaran token menjadi bagian dari perbincangan mengenai cara mengembangkan agen AI sekaligus menjaga penggunaan sumber daya tetap terukur. Steinberger tidak memerinci rincian pemakaian bulanan itu dalam laporan yang tersedia. Pertanyaan mengenai seberapa efektif token digunakan pun masih terbuka, bersamaan dengan dorongan untuk membangun infrastruktur cloud yang lebih siap menopang agen AI.


