Batuan metamorf yang ditemukan di kawasan Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, menyimpan petunjuk tentang pergerakan lempeng pada masa Kapur, lebih dari 70 juta tahun silam. Sampel filit grafit dan sekis mika membantu peneliti memperkirakan kondisi tekanan serta temperatur ketika batuan itu terbentuk.
Temuan geologi tersebut memberi konteks ilmiah bagi sebutan batuan purba yang lekat dengan Kebumen. Namun, usia batuan tidak otomatis menunjukkan usia benda yang dibuat atau dibentuk manusia dari batu itu. Perbedaan ini penting, terutama setelah beredar kisah mengenai kapak batu yang ditemukan di Sungai Luk Ulo.
Penelitian yang disampaikan Isyqi, peneliti Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Geodiversitas Sukendar Asikin di bawah Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, berfokus pada Kompleks Melange Luk Ulo. Wilayah ini menyimpan batuan yang menjadi rekaman proses geologi jauh sebelum bentang alam sekarang terbentuk.
Sampel batuan mengungkap kondisi di kedalaman
Dalam webinar Koleksi Ilmiah TakSon Series 23, Isyqi menjelaskan bahwa batuan metamorf berasal dari batuan lain yang berubah karena kondisi di dalam bumi. Batuan asalnya, atau protolit, dapat berupa batuan beku, sedimen, maupun batuan metamorf yang lebih tua. Perubahan itu memengaruhi mineral, tekstur, dan struktur batuan.
Pembentukan batuan metamorf dipengaruhi temperatur sekitar 150 hingga 700 derajat Celsius, tekanan dari 0,1 megapascal sampai 6 gigapascal, serta fluida seperti air dan karbon dioksida. Kombinasi faktor tersebut berbeda-beda menurut lingkungan geologinya. Batuan metamorf dapat terbentuk di zona subduksi, wilayah tumbukan benua, sekitar intrusi magma, dan punggungan tengah samudra. Gelombang kejut akibat tumbukan meteorit juga dapat memicu metamorfisme.
Untuk menelusuri riwayat sampel dari Luk Ulo, peneliti menggunakan analisis termometri klorit, barometri fengit, dan spektroskopi Raman. Hasil pada filit grafit menunjukkan tekanan sekitar 4 hingga 6 kilobar dengan temperatur 340–380 derajat Celsius. Kondisi itu sesuai dengan fasies greenschist, yang juga dikenal sebagai fasies sekis hijau.
Sampel sekis mika memberi petunjuk berbeda. Batuan ini diperkirakan terbentuk pada tekanan 15–16 kilobar dan suhu 350–380 derajat Celsius. Menurut hasil kajian yang dipaparkan Isyqi, kondisi tersebut berkaitan dengan lingkungan subduksi purba. Perbedaan tekanan pada kedua sampel membantu peneliti membaca proses yang dialami batuan saat bergerak ke bagian dalam bumi.
Umur batu dan umur kapak bukan hal yang sama
Perhatian terhadap batuan Luk Ulo juga muncul dari aktivitas warga di sepanjang sungai. RMOL Jateng melaporkan adanya cerita tentang kapak batu yang dikoleksi peneliti mandiri kesejarahan Nusantara, Sariat Arifia. Benda itu disebut berasal dari temuan penambang pasir, lalu berpindah tangan sebelum dikoleksi Sariat.
Dalam laporan tersebut, usia material batu kapak itu diperkirakan 50 juta hingga 100 juta tahun. Namun, perkiraan itu disebut masih berupa dugaan awal dan memerlukan pembuktian ilmiah dengan peralatan yang memadai. Angka tersebut merujuk pada usia batu, bukan waktu pembuatan kapak. Karena itu, cerita mengenai usia material tidak dapat langsung dipakai untuk memastikan kapan benda tersebut dibentuk.
Pembedaan itu sejalan dengan penelitian geologi di Karangsambung. Analisis batuan dapat mengungkap temperatur dan tekanan yang pernah dialami material di dalam bumi, tetapi usia sebuah artefak merupakan pertanyaan berbeda yang memerlukan pemeriksaan tersendiri. CNBC Indonesia melaporkan bahwa sampel batuan metamorf di kawasan tersebut digunakan untuk menyusun kembali riwayat tektonik, bukan sekadar mengenali bentuk atau nilai koleksinya.
Koleksi ilmiah dan kekayaan DAS Luk Ulo
KKI Geodiversitas BRIN di Karangsambung mengelola 852 koleksi geomaterial. Jumlah itu terdiri atas 231 batuan beku, 328 batuan sedimen, 172 batuan metamorf, dan 121 mineral. Koleksi tersebut menjadi bahan penelitian untuk memahami proses pembentukan batuan dan perubahan geologi di Nusantara.
Di luar koleksi lembaga, Sungai Luk Ulo juga dikenal warga sebagai lokasi pencarian batu untuk bahan bangunan, batu akik, maupun batu yang dianggap menarik karena warna dan bentuknya. RMOL Jateng menyebut beberapa jenis batu yang ditemukan di kawasan itu, antara lain badar besi, kalsedon, kecubung wulung, dan akik darah. Laporan yang sama juga menyebut keberadaan sejumlah situs geologi di daerah aliran sungai tersebut.
Potensi itu menghadirkan dua kepentingan sekaligus: pemanfaatan kawasan oleh masyarakat dan perlunya dokumentasi geologi yang dapat dipertanggungjawabkan. Riset pada batuan metamorf memberi salah satu cara untuk membaca nilai ilmiahnya, sementara klaim tentang benda tertentu tetap perlu diuji berdasarkan bukti yang sesuai. Penelitian terhadap koleksi dan sampel Luk Ulo masih menjadi jalur untuk memperjelas sejarah geologi kawasan tersebut.
You may also like
Archives
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||


