Penularan penyakit pes tidak hanya berkaitan dengan keberadaan tikus, tetapi juga pinjal yang hidup pada tubuh hewan pengerat itu. Bakteri penyebab pes, Yersinia pestis, dapat berpindah ke manusia melalui gigitan pinjal yang terinfeksi. Karena itu, pengendalian tikus dan kebersihan lingkungan permukiman menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko.
Dosen Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB University, Swastiko Priyambodo, menjelaskan bahwa pinjal tikus, termasuk jenis Xenopsylla cheopis, berperan sebagai perantara bakteri. Pinjal mengisap darah tikus dan dapat membawa bakteri pes. Risiko bagi manusia muncul ketika pinjal terinfeksi menggigit seseorang.
Penjelasan tersebut diberitakan Prohealth.id. Swastiko menggambarkan penularan pes melibatkan tiga unsur yang saling berkaitan: tikus sebagai inang, pinjal sebagai vektor, dan bakteri sebagai penyebab penyakit. Memahami hubungan itu membantu menjelaskan mengapa keberadaan tikus di sekitar rumah perlu ditangani, bukan hanya karena hewannya, tetapi juga karena parasit yang mungkin dibawanya.
Pinjal mencari inang baru saat tikus mati
Pinjal biasanya tetap berada pada inang selama masih dapat bertahan hidup di sana. Namun, keadaan berubah jika tikus yang menjadi tempat hidupnya mati. Pinjal kemudian dapat mencari inang pengganti. Apabila pinjal tersebut membawa bakteri pes dan menggigit manusia, penularan dapat terjadi.
Dengan demikian, keberadaan bangkai tikus perlu diperhatikan dalam memahami risiko. Hubungan antara kematian tikus dan perpindahan pinjal menjelaskan mengapa pengendalian hewan pengerat harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan secara menyeluruh. Bahan yang tersedia tidak merinci tata cara penanganan bangkai atau penggunaan bahan tertentu, sehingga masyarakat sebaiknya merujuk pada arahan otoritas kesehatan untuk langkah teknis.
Berbagai spesies tikus berpotensi terlibat dalam penularan. Tikus rumah dan tikus Norway mendapat perhatian khusus karena keduanya hidup dekat dengan manusia, sehingga peluang perjumpaan lebih besar. Kedekatan ini membuat pengendalian tikus di kawasan hunian relevan sebagai upaya pencegahan, meskipun keberadaan tikus saja tidak serta-merta berarti seseorang telah terpapar pes.
Pes masih dipantau di sejumlah wilayah Jawa
Di Indonesia, penyakit pes masih tercatat secara terbatas di beberapa kabupaten di Pulau Jawa. Kementerian Kesehatan terus memantau penyakit tersebut. Informasi ini menjadi pengingat bahwa pes bukan sekadar bagian dari sejarah, meskipun laporan yang dirujuk tidak menyebutkan jumlah kasus maupun kabupaten yang dimaksud.
Pes pernah menimbulkan dampak luas dalam sejarah. Wabah Black Death pada 1347–1351 melanda Eropa, Afrika Utara, dan Asia Barat serta menyebabkan kematian dalam jumlah sangat besar. Peristiwa tersebut memperlihatkan akibat yang dapat muncul ketika penularan penyakit meluas. Namun, catatan sejarah itu tidak dengan sendirinya menggambarkan situasi pes saat ini di Indonesia.
Swastiko juga menyinggung kekhawatiran mengenai kasus di Rusia yang belakangan muncul. Menurut penilaiannya, peluang penularan melalui jalur pinjal sangat kecil apabila vektor tersebut tidak terlibat. Ia menekankan bahwa penilaian risiko perlu bertumpu pada pemeriksaan dan informasi resmi dari otoritas kesehatan. Laporan yang tersedia tidak menyertakan rincian kasus di Rusia, sehingga informasi tambahan perlu menunggu keterangan resmi.
Sanitasi membantu mengurangi sumber makanan tikus
Langkah pencegahan yang disampaikan Swastiko berfokus pada pengendalian tikus di habitat sekitar manusia. Ia menganjurkan sanitasi dan pengurangan sumber makanan yang mudah dijangkau tikus, termasuk melalui pengelolaan tempat sampah. “Pengendalian tikus di habitat sekitar manusia menjadi hal yang penting untuk kita terapkan,” ujarnya.
Pengelolaan sampah yang baik membantu mengurangi peluang tikus memperoleh makanan di sekitar hunian. Kebersihan lingkungan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika terlihat ada tikus. Upaya tersebut tidak menggantikan pemantauan kesehatan, tetapi menjadi bagian dari pencegahan yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga dan lingkungan.
Risiko kesehatan yang berkaitan dengan tikus tidak terbatas pada pes. Prohealth.id juga mengingatkan adanya leptospirosis dan hantavirus yang berhubungan dengan urine tikus. Leptospirosis dapat menular melalui air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi, sedangkan jenis hantavirus tertentu dapat menyebar saat partikel tercemar terhirup. Jalur penularannya berbeda dari pes, yang berkaitan dengan gigitan pinjal.
Pemantauan pes oleh Kementerian Kesehatan masih berlangsung di sejumlah kabupaten di Jawa. Sementara itu, sanitasi, pengelolaan sampah, serta pengurangan sumber makanan tikus menjadi langkah pencegahan yang dapat diterapkan warga. Untuk informasi mengenai risiko dan penanganan di wilayah tertentu, masyarakat perlu mengikuti keterangan resmi otoritas kesehatan.


