Serangan udara militer Myanmar di sebuah desa di Yesagyo, wilayah tengah negara itu, menewaskan 11 warga sipil pada Jumat. Korban mencakup enam perempuan dan dua anak-anak, termasuk seorang balita berusia satu tahun, menurut keterangan anggota kelompok pemberontak People’s Defence Forces (PDF).
Serangan itu terjadi di kawasan yang dikuasai PDF. Bo Paw, anggota kelompok tersebut, mengatakan pesawat militer menyerang sekitar pukul 14.00 waktu setempat atau 07.30 GMT. Hingga laporan AFP yang dikutip pada Minggu (18/10/2026), pihak militer Myanmar belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar.
Rumah-rumah hancur di tepi jalan
Seorang saksi mata yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan menggambarkan kerusakan setelah serangan. Ia mengatakan tiga rumah hancur total akibat bom yang jatuh di tepi jalan. Saksi itu juga menyebut para korban meninggal di lokasi kejadian.
“Saya melihat tiga rumah hancur total. Rumah-rumah itu berada di tepi jalan, tepat di titik jatuhnya bom,” ujar saksi tersebut.
Di antara korban, kata saksi itu, terdapat seorang pelajar berusia 11 tahun yang sedang mengendarai sepeda saat serangan berlangsung. Kesaksian tersebut menambah gambaran tentang dampak serangan terhadap warga yang berada di sekitar lokasi, termasuk anak-anak.
Jumlah korban yang disampaikan Bo Paw mencapai 11 orang. Enam di antaranya perempuan, sementara dua korban merupakan anak-anak. Salah satu anak yang tewas masih berusia satu tahun. Informasi itu disampaikan oleh pihak PDF, kelompok yang menguasai wilayah tempat serangan terjadi.
Belum ada keterangan dari militer Myanmar yang dapat mengonfirmasi atau menanggapi laporan tersebut. Karena itu, rincian serangan dalam laporan AFP berasal dari keterangan anggota PDF dan seorang saksi mata yang identitasnya tidak diungkapkan.
Konflik Myanmar berlanjut sejak kudeta 2021
Myanmar dilanda perang saudara sejak kudeta militer pada 2021. Kudeta itu menggulingkan pemerintahan terpilih yang dipimpin Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian. Sejak itu, perlawanan terhadap pemerintahan militer melibatkan PDF dan pasukan dari kelompok etnis minoritas yang telah lama menentang kekuasaan pemerintah pusat.
PDF muncul sekitar masa kudeta tersebut. Kelompok ini kemudian bertempur bersama pasukan etnis minoritas dalam konflik melawan militer. Namun, perkembangan kekuatan di medan perang tidak selalu berpihak kepada mereka. Setelah sempat mencatat kemajuan signifikan, pasukan PDF kini berada dalam posisi terdesak di sekitar Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.
Skala korban jiwa dalam konflik itu juga terus menjadi perhatian. Lembaga pemantau konflik ACLED memperkirakan lebih dari 100.000 orang telah tewas di Myanmar sejak perang saudara dimulai. Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak konflik yang berlangsung sejak 2021, meski laporan mengenai serangan di Yesagyo hanya mencatat korban dalam satu kejadian.
Dampak serangan terhadap warga sipil
Serangan di Yesagyo kembali menempatkan keselamatan warga sipil sebagai persoalan utama di tengah perang. Keterangan saksi mengenai rumah-rumah yang hancur dan seorang anak yang tewas menunjukkan bahwa dampak pertempuran dapat menjangkau kawasan tempat warga tinggal dan beraktivitas.
Informasi lebih lanjut mengenai serangan itu masih bergantung pada keterangan pihak-pihak di lapangan. Sementara militer Myanmar belum memberikan tanggapan, laporan mengenai jatuhnya korban sipil menjadi pengingat akan tingginya risiko yang dihadapi penduduk di wilayah konflik. Perkembangan situasi di Yesagyo dan kawasan sekitar Mandalay akan menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana perang saudara Myanmar terus memengaruhi kehidupan warga.


