Deodoran belum terbukti meningkatkan risiko kanker payudara. General Practitioner RS Sentra Medika Hospital Harapan Bunda, dr. Andi Sitti Tandina, mengatakan belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan hubungan langsung antara penggunaan deodoran dan kanker payudara. Karena itu, kekhawatiran terhadap kandungan aluminium atau paraben perlu dilihat dengan mengacu pada bukti yang tersedia, bukan hanya dugaan.
Meski demikian, perubahan pada ketiak maupun payudara tetap perlu diperhatikan. Benjolan yang tidak biasa, misalnya, sebaiknya tidak langsung dianggap akibat pemakaian deodoran. Menurut dr. Andi, benjolan di area tersebut dapat memiliki beragam penyebab dan perlu dinilai berdasarkan kondisi klinis masing-masing.
Belum ada hubungan langsung yang meyakinkan
Anggapan bahwa deodoran dapat memicu kanker payudara kerap muncul karena sebagian produk perawatan tubuh mengandung aluminium dan paraben. Kedua bahan ini pernah menjadi perhatian dalam penelitian tentang kemungkinan kaitannya dengan kanker. Namun, dugaan yang muncul dari penelitian belum otomatis membuktikan bahwa suatu produk menyebabkan kanker pada manusia.
National Cancer Institute dan American Cancer Society, sebagaimana dirujuk dalam penjelasan tersebut, juga menyatakan bahwa penelitian yang tersedia belum menunjukkan hubungan yang meyakinkan antara penggunaan deodoran atau antiperspiran dan kanker payudara. Artinya, hingga bukti yang ada saat ini, pemakaian produk tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab langsung kanker payudara.
Dr. Andi menyampaikan penjelasan itu dalam acara Morning Zone yang tayang di YouTube Okezone. Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak perlu langsung menganggap deodoran sebagai pemicu kanker. Pemahaman terhadap fungsi bahan di dalam produk, serta sikap kritis terhadap klaim yang beredar, dapat membantu menempatkan kekhawatiran secara lebih proporsional.
Fungsi aluminium dan paraben dalam produk
Aluminium umumnya digunakan sebagai bahan aktif dalam antiperspiran. Fungsinya membantu mengurangi produksi keringat yang mencapai permukaan kulit. Sementara itu, paraben merupakan kelompok bahan pengawet yang digunakan dalam sejumlah produk kosmetik untuk membantu mencegah pertumbuhan mikroorganisme.
Keduanya memiliki fungsi berbeda. Karena itu, istilah deodoran dan antiperspiran dalam pembahasan ini perlu dipahami sesuai konteks: aluminium disebut sebagai bahan yang lazim digunakan pada antiperspiran, sedangkan paraben digunakan sebagai pengawet pada sejumlah kosmetik.
Perhatian terhadap aluminium dan paraben berangkat dari temuan yang menimbulkan pertanyaan, bukan bukti bahwa pemakaian produk yang mengandungnya menyebabkan kanker payudara. Aluminium pernah dikaitkan dengan dugaan efek yang menyerupai hormon estrogen. Paraben juga diketahui memiliki aktivitas estrogenik yang lemah dalam penelitian laboratorium.
Dugaan dari penelitian bukan bukti penyebab
Temuan mengenai aktivitas suatu bahan dalam penelitian laboratorium tidak dengan sendirinya membuktikan dampak yang sama pada manusia dalam penggunaan sehari-hari. Dalam penjelasan dr. Andi, dugaan terkait aluminium maupun paraben belum membuktikan bahwa produk yang mengandung bahan tersebut menyebabkan kanker payudara pada manusia.
Pembedaan antara dugaan dan bukti ini penting agar masyarakat tidak menarik kesimpulan berlebihan. Adanya bahan tertentu dalam produk bukan berarti risiko kanker telah terbukti. Sebaliknya, belum ditemukannya hubungan langsung yang meyakinkan juga tidak berarti perubahan pada tubuh boleh diabaikan.
Dalam konteks ini, pesan utamanya adalah melihat persoalan berdasarkan bukti yang tersedia. Berdasarkan penelitian yang dirujuk, hubungan antara deodoran atau antiperspiran dan kanker payudara belum meyakinkan. Kekhawatiran tentang kandungan produk sebaiknya tidak menggantikan perhatian terhadap kondisi tubuh sendiri.
Perhatikan benjolan di ketiak dan payudara
Jika menemukan benjolan yang tidak biasa di ketiak atau payudara, masyarakat dianjurkan memperhatikan perubahan tersebut dan mencari penilaian klinis. Benjolan tidak serta-merta berarti kanker, tetapi juga tidak bisa dipastikan penyebabnya hanya dari dugaan bahwa seseorang menggunakan deodoran.
Dr. Andi menekankan bahwa benjolan di area ketiak atau payudara dapat memiliki beragam penyebab. Penilaiannya perlu mempertimbangkan kondisi klinis masing-masing orang. Dengan demikian, informasi tentang deodoran tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan perubahan, ataupun membuat seseorang langsung menyimpulkan bahwa produk perawatan tubuh adalah penyebabnya.
Untuk saat ini, bukti yang disampaikan belum menunjukkan kaitan langsung yang meyakinkan antara deodoran dan kanker payudara. Masyarakat dapat menyikapi isu tersebut dengan tenang, sembari tetap peka terhadap perubahan pada tubuh. Bila muncul benjolan yang tidak biasa, langkah yang lebih tepat adalah meminta penilaian klinis, bukan menebak penyebabnya sendiri.


