Seorang insinyur elektronika berusia 25 tahun didiagnosis mengidap kanker kolorektal stadium 2 setelah mengalami nyeri tumpul berkepanjangan di perut bagian atas. Ia tidak merasakan tanda yang lebih dikenal, seperti tinja berdarah, diare, atau sembelit. Kasus yang dilaporkan Vietnam.vn dari pemberitaan China Times itu menunjukkan bahwa keluhan samar pun perlu diperhatikan bila terus menetap.
Pasien tersebut memeriksakan diri dan menjalani pemeriksaan ultrasonografi. Hasilnya menunjukkan lesi yang tidak normal, sehingga dokter melanjutkan pemeriksaan dengan CT scan. Dari pemindaian itu ditemukan tumor berukuran sekitar lima sentimeter di usus besar transversum.
Dokter kemudian menetapkan penyakit pasien berada pada stadium 2. Tumor diangkat melalui operasi dan, menurut laporan tersebut, pasien tidak memerlukan kemoterapi setelah tindakan. Meski demikian, rincian mengenai kondisi pasien setelah operasi tidak disebutkan.
Nyeri perut berkepanjangan menjadi petunjuk
Kasus ini ditangani Dr. Xiao Dunren, ahli hepatologi dan gastroenterologi di Klinik Dunren, Taiwan. Pasien yang ia rawat tidak memiliki gejala pencernaan yang lazim dikaitkan dengan kanker kolorektal. Keluhan utamanya justru nyeri tumpul yang berulang di bagian atas perut.
Gejala kanker kolorektal memang tidak selalu muncul dengan pola yang sama. Dalam laporan itu, dokter menyebut sebagian pasien dapat mengalami keluhan yang tidak spesifik, seperti nyeri perut terus-menerus, kembung, atau rasa tidak nyaman di sekitar perut. Keluhan seperti itu tentu tidak otomatis berarti seseorang terkena kanker, tetapi tetap patut diperiksa apabila menetap atau terasa tidak biasa.
Perubahan kebiasaan buang air besar dan darah pada tinja juga perlu menjadi perhatian. Laporan tersebut turut menyebut anemia yang tidak diketahui penyebabnya serta penurunan berat badan yang tidak biasa sebagai alasan untuk berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan diperlukan agar penyebab keluhan dapat dinilai dan langkah selanjutnya ditentukan secara tepat.
Pola makan menjadi salah satu faktor risiko
Ketika meninjau kebiasaan pasien, dokter mencatat ia tinggal sendiri, sering makan di luar, menyukai makanan cepat saji, serta jarang mengonsumsi sayuran dan buah segar. Catatan itu menjadi bagian dari penilaian gaya hidup pasien, bukan bukti bahwa pola makannya secara langsung menyebabkan kanker.
Kanker kolorektal merupakan penyakit dengan sejumlah faktor risiko. Selain faktor genetik dan riwayat keluarga, laporan itu juga menyebut penyakit usus tertentu serta gaya hidup sebagai hal yang perlu dipertimbangkan. Karena penyebab kanker dapat melibatkan banyak faktor, kondisi seseorang tidak bisa dijelaskan hanya dari satu kebiasaan atau jenis makanan.
Dr. Qian Zhenghuang, spesialis hepatologi dan gastroenterologi di Rumah Sakit Umum Keelung Chang Gung, menyoroti bahwa pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat dapat memengaruhi keseimbangan mikrobioma usus. Namun, keterangan tersebut tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara kebiasaan pasien berusia 25 tahun itu dan penyakit yang dialaminya.
Serat dan pemeriksaan untuk deteksi dini
Serat berperan dalam membantu fungsi pencernaan dan mendukung mikrobioma usus. Sumber serat yang disebutkan dalam laporan meliputi sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, serta biji-bijian utuh. Rekomendasi asupan serat harian yang dikutip sekitar 30 gram, sedangkan rata-rata konsumsi masyarakat setempat dilaporkan sekitar 15 gram.
Untuk mengurangi risiko, para ahli yang dikutip menganjurkan pola makan seimbang, membatasi konsumsi daging dan lemak berlebihan, serta mengurangi minuman beralkohol. Olahraga teratur juga disarankan. Laporan itu turut menyebut pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala dan menghindari paparan zat mutagenik, termasuk pestisida dan stimulan pertumbuhan yang terdapat dalam makanan.
Menurut rekomendasi yang dimuat dalam artikel tersebut, orang berusia 50 tahun ke atas dianjurkan menjalani tes darah pada tinja dan kolonoskopi setiap tiga hingga lima tahun untuk deteksi dini. Orang dengan riwayat keluarga kanker kolorektal atau yang merasa termasuk kelompok berisiko tinggi dapat membicarakan jadwal pemeriksaan dengan dokter, agar skrining disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Nyeri perut yang tak kunjung reda bukan diagnosis kanker, tetapi juga bukan keluhan yang sebaiknya diabaikan. Bila muncul gejala pencernaan yang tidak biasa atau perubahan kondisi tubuh yang menetap, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebabnya lebih awal dan menentukan penanganan yang sesuai.


