Kebiasaan begadang dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, bahkan pada orang yang jarang mengonsumsi makanan manis. Kurang tidur yang berlangsung terus-menerus bisa mengganggu cara tubuh mengatur gula darah, meski pola makan tetap perlu diperhatikan sebagai salah satu faktor kesehatan.
Insulin berfungsi membantu glukosa dalam darah masuk ke sel untuk digunakan sebagai energi. Saat seseorang rutin tidur terlalu singkat, sensitivitas tubuh terhadap insulin dapat menurun. Tubuh pun perlu bekerja lebih keras untuk menjaga kadar gula darah tetap terkendali.
Jika gangguan pengaturan gula darah berlangsung lama, risiko diabetes tipe 2 dapat meningkat. Namun, begadang sesekali tidak serta-merta menyebabkan seseorang terkena diabetes. Risiko juga dipengaruhi pola makan, aktivitas fisik, usia, faktor genetik, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Hubungan durasi tidur dan risiko diabetes tipe 2
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open pada Maret 2024 menganalisis data 247.867 orang dewasa di Inggris. Peneliti menelaah kaitan durasi tidur, pola makan, dan risiko diabetes tipe 2.
Hasilnya, orang yang terbiasa tidur hanya tiga sampai empat jam sehari memiliki risiko diabetes tipe 2 sekitar 41 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidur tujuh sampai delapan jam. Pada kelompok yang tidur sekitar lima jam, risikonya tercatat sekitar 16 persen lebih tinggi.
Kaitan antara tidur singkat dan risiko diabetes juga terlihat pada peserta yang menerapkan pola makan sehat. Temuan ini menunjukkan bahwa menjaga asupan tetap penting, tetapi tidak selalu menghapus hubungan antara kurang tidur berkepanjangan dan risiko gangguan metabolisme.
Meski demikian, penelitian tersebut bersifat observasional. Artinya, hasilnya menunjukkan adanya hubungan, bukan bukti bahwa kurang tidur secara langsung menyebabkan diabetes pada setiap orang. Penilaian risiko tetap perlu mempertimbangkan berbagai faktor lain.
Kurang tidur dapat mengubah respons tubuh
Penelitian lain yang diberitakan National Institutes of Health (NIH) menemukan bahwa pembatasan tidur rata-rata sekitar 6,2 jam per malam selama enam minggu dapat meningkatkan resistensi insulin pada perempuan. Peningkatannya sekitar 14,8 persen pada seluruh peserta dan mencapai 20,1 persen pada perempuan pascamenopause.
Resistensi insulin terjadi ketika sel tubuh tidak merespons insulin secara optimal. Akibatnya, glukosa lebih sulit masuk ke dalam sel dan tubuh harus berupaya lebih keras untuk mengendalikan kadar gula darah. Kondisi ini bukan berarti seseorang telah didiagnosis diabetes, tetapi dapat menjadi bagian dari gangguan metabolisme yang patut diperhatikan.
Kurang tidur juga berpotensi mengacaukan pengaturan rasa lapar dan kenyang. Seseorang bisa lebih mudah merasa lapar dan terdorong memilih makanan tinggi kalori. Perubahan kebiasaan makan ini dapat menambah faktor risiko, terutama bila berlangsung bersama pola hidup kurang aktif.
Jarang makan manis bukan satu-satunya ukuran
Anggapan bahwa diabetes hanya berkaitan dengan konsumsi gula atau makanan bercita rasa manis tidak sepenuhnya tepat. Dokter spesialis gizi klinik, dr. Nadhira Afifa, menjelaskan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon tersebut memberi sinyal kepada hati untuk melepaskan simpanan gula, sehingga kadar gula darah dapat naik.
Ia juga mengingatkan bahwa sumber karbohidrat tidak selalu terasa manis. Makanan gurih atau asin seperti bakwan, cireng, risol, pastel, batagor, seblak, kerupuk, dan emping dapat mengandung karbohidrat sederhana. Karena itu, menghindari minuman manis saja belum tentu menggambarkan keseluruhan pola makan seseorang.
Diabetes tipe 2 juga semakin menjadi perhatian pada usia produktif. Dokter diabetologi dr. Kelvin Candiago menyebut kebiasaan seperti sering begadang, jarang bergerak di luar waktu olahraga, dan jadwal makan tidak teratur dapat berkaitan dengan risiko resistensi insulin apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Menjaga pola tidur sebagai bagian dari gaya hidup sehat
Orang dewasa umumnya dianjurkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Durasi saja tidak cukup; kualitas dan keteraturan tidur juga penting untuk mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, dan memberi tubuh waktu istirahat yang memadai merupakan bagian dari upaya mengelola risiko diabetes. Bila khawatir terhadap kadar gula darah atau memiliki faktor risiko tertentu, pemeriksaan kesehatan dapat membantu memberikan gambaran yang lebih jelas. Kebiasaan tidur sehat bukan pengganti pemeriksaan maupun diagnosis, tetapi layak menjadi perhatian dalam rutinitas sehari-hari.


