Vaksin influenza, COVID-19, herpes zoster, RSV, dan pneumokokus dapat membantu mengurangi risiko infeksi yang membebani jantung. Manfaatnya tidak sama: bukti paling kuat untuk pencegahan kejadian kardiovaskular langsung sejauh ini ditemukan pada vaksin influenza, sementara penelitian untuk vaksin lain masih memiliki sejumlah batasan.
Infeksi dapat memicu peradangan dan perubahan pada pembekuan darah. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke, terutama pada orang yang telah memiliki penyakit jantung atau faktor risikonya. Tinjauan terhadap 155 penelitian menemukan kaitan antara sejumlah infeksi virus, termasuk influenza dan COVID-19, dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
American College of Cardiology (ACC) memasukkan vaksin influenza, COVID-19, RSV, dan pneumokokus dalam panduan imunisasi untuk perawatan kardiovaskular orang dewasa. ACC juga menyebut bukti awal mengenai vaksin herpes zoster. Namun, vaksinasi tetap perlu dipahami sebagai bagian dari upaya pencegahan infeksi, bukan jaminan bebas serangan jantung.
Vaksin influenza memiliki bukti manfaat paling kuat
Influenza dapat memicu komplikasi kardiovaskular pada orang dengan penyakit jantung. Dalam metaanalisis terhadap lima uji klinis acak yang melibatkan 5.659 orang dengan penyakit jantung iskemik, penerima vaksin influenza memiliki risiko kejadian kardiovaskular mayor sekitar 33 persen lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.
Peneliti juga menemukan penurunan risiko serangan jantung dan kematian kardiovaskular. Temuan ini menjadi bukti langsung yang cukup kuat bahwa vaksin influenza tahunan dapat berperan dalam pencegahan sekunder, yakni upaya mencegah kejadian berulang pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung iskemik.
Besarnya manfaat tersebut belum tentu sama bagi orang yang tidak memiliki diagnosis penyakit jantung. Karena itu, hasil penelitian pada kelompok berisiko tidak serta-merta menggambarkan dampak yang sama pada seluruh populasi.
Vaksin COVID-19 dan herpes zoster
Vaksin COVID-19 membantu menurunkan risiko sakit berat. Dengan mengurangi dampak infeksi, vaksin berpotensi menekan komplikasi yang melibatkan jantung dan pembuluh darah. Sebuah studi kohort terhadap lebih dari satu juta veteran di Amerika Serikat mengaitkan vaksin COVID-19 musim 2024–2025 dengan risiko kejadian kardiovaskular mayor terkait COVID-19 yang lebih rendah selama delapan bulan pemantauan.
Kejadian yang dinilai mencakup kematian kardiovaskular, serangan jantung, stroke, dan rawat inap akibat gagal jantung. Namun, rata-rata peserta berusia 70 tahun dan mayoritas laki-laki, sehingga hasilnya belum tentu berlaku dengan besaran yang sama bagi semua orang. Peradangan otot atau selaput jantung setelah vaksin pernah dilaporkan, tetapi kasusnya jarang dan paling sering tercatat pada laki-laki remaja serta dewasa muda setelah vaksin mRNA. Orang dengan riwayat peradangan jantung sebaiknya mendiskusikan dosis berikutnya dengan dokter.
Herpes zoster, atau cacar ular, terjadi ketika virus varisela-zoster yang pernah menyebabkan cacar air aktif kembali. Infeksi ini diketahui berkaitan dengan risiko serangan jantung dan stroke yang lebih tinggi. Metaanalisis tahun 2026 terhadap sembilan studi menemukan penerima vaksin zoster cenderung memiliki risiko kejadian kardiovaskular lebih rendah.
Temuan itu menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa vaksin secara langsung mencegah penyakit jantung. Studi observasional di Korea Selatan terhadap lebih dari 1,2 juta orang juga menemukan risiko kejadian kardiovaskular lebih rendah pada penerima vaksin zoster hidup. Faktor lain mungkin turut memengaruhi hasil, dan temuan tersebut belum tentu berlaku untuk semua jenis vaksin zoster.
RSV dan pneumokokus: mencegah infeksi berat
RSV dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan serius, terutama pada lansia dan orang dengan penyakit jantung. Dalam uji klinis di Denmark yang melibatkan lebih dari 131 ribu orang berusia 60 tahun ke atas, vaksin RSV menurunkan angka rawat inap akibat gangguan jantung dan paru secara keseluruhan.
Akan tetapi, ketika peneliti menilai penyakit kardiovaskular saja, penurunannya tidak cukup besar untuk dianggap bermakna secara statistik. Bukti yang tersedia lebih mendukung manfaat vaksin RSV dalam mencegah komplikasi pernapasan dan jantung-paru secara umum, bukan sebagai pencegah serangan jantung yang telah terbukti langsung.
Vaksin pneumokokus membantu mencegah infeksi bakteri penyebab pneumonia. Pencegahan pneumonia penting bagi orang dengan penyakit jantung karena infeksi berat dapat menambah beban tubuh dan memperburuk kondisi yang sudah ada. Informasi yang tersedia belum menunjukkan bukti kuat bahwa vaksin ini secara langsung mencegah kejadian kardiovaskular.
Diskusikan pilihan vaksin dengan tenaga kesehatan
Kelima vaksin tersebut memiliki tujuan dan tingkat bukti yang berbeda. Perlindungan terhadap infeksi dapat memberi manfaat tambahan bagi jantung, tetapi hasil penelitian—terutama yang bersifat observasional—tidak selalu membuktikan hubungan sebab-akibat.
Orang dengan penyakit jantung atau faktor risiko kardiovaskular dapat membicarakan jadwal dan jenis imunisasi yang sesuai dengan dokter. Keputusan vaksinasi sebaiknya mempertimbangkan kondisi kesehatan, usia, serta riwayat medis, sembari tetap menjalankan langkah pencegahan jantung lainnya.


