Uji coba MBG prasmanan di lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghadirkan cara baru penyajian Makan Bergizi Gratis di sekolah. Makanan yang biasanya dibagikan dalam ompreng kini disusun di meja saji agar disantap dalam keadaan hangat. Badan Gizi Nasional (BGN) membuka kemungkinan memperluas model ini hingga 5.000 dapur sebelum akhir tahun, jika evaluasi menunjukkan hasil positif.
Perubahan itu berlangsung ketika program MBG masih dibayangi laporan dugaan keracunan makanan. Pada September, lebih dari 3.000 orang dilaporkan mengalami dugaan keracunan terkait MBG di sejumlah daerah. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebut jumlah korban secara kumulatif telah melampaui 50.000 orang pada Oktober, sejak program dimulai pada Januari 2025.
Prasmanan diharapkan memperpendek jarak waktu antara makanan selesai dimasak dan disantap. Namun, sejumlah pihak mengingatkan bahwa cara penyajian saja belum cukup untuk memastikan keamanan pangan.
Menu hangat membuat murid lebih antusias
SD Negeri Linggar 03 di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, menjadi salah satu sekolah percontohan. Uji coba di sekolah tersebut dimulai pada Senin (5/10) dan dijadwalkan berlangsung selama dua pekan. Saat jurnalis BBC News Indonesia berkunjung pada Selasa (13/10), sekitar 60 murid kelas 5 dan 6 mengikuti program itu.
Hari itu, menu yang disajikan terdiri atas nasi putih, ayam geprek, tahu goreng, tumis wortel dan labu siam, serta potongan melon. Makanan dibawa menggunakan termos dan wadah stainless steel, lalu ditata oleh kru SPPG di meja saji. Jumlahnya disiapkan sekitar 3 hingga 5 persen lebih banyak dari jumlah penerima manfaat untuk mengantisipasi murid yang ingin menambah porsi.
Sejumlah murid mendapat tugas membagikan nasi, lauk, sayur, dan buah kepada teman-temannya. Sebelum membantu, mereka diminta mencuci tangan serta mengenakan apron, penutup rambut, masker, dan sarung tangan plastik.
Ahmad Al Hidayatullah, siswa kelas 6, mengatakan makanan terasa lebih enak karena nasinya hangat. Kepala sekolah, Euis Nani Mulyani, juga melihat murid lebih antusias menyantap hidangan. Menurut dia, makanan lebih banyak habis dan sisa yang terbuang berkurang karena anak-anak bahkan meminta tambahan.
Imas Rohimah, ibu Ahmad, menilai penyajian langsung membuat makanan terasa lebih aman dibandingkan makanan yang disimpan dalam ompreng. Ia khawatir makanan yang disimpan terlalu lama bisa menjadi basi. Pandangan itu merupakan kesan orang tua, bukan hasil pengujian keamanan pangan.
Prasmanan bukan satu-satunya penentu keamanan
Pakar keamanan pangan Souvia Rahimah mengingatkan, risiko keracunan tidak hanya dipengaruhi oleh cepat atau lambatnya makanan disajikan. Kualitas bahan baku, proses memasak, distribusi, dan sanitasi juga menjadi bagian penting dari rantai keamanan pangan.
Artinya, makanan yang tersaji hangat belum dengan sendirinya menjawab seluruh persoalan. Pengendalian perlu dilakukan sejak bahan diterima dan diolah hingga makanan sampai kepada penerima. Dalam konteks itu, evaluasi uji coba perlu menilai lebih dari sekadar respons murid atau jumlah makanan yang tersisa.
Ketua JPPI Ubaid Matraji mempertanyakan apakah sistem prasmanan justru akan membuat pelaksanaan program lebih sulit diawasi. Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena perubahan cara penyajian juga membawa konsekuensi pada kebutuhan tenaga dan pengiriman.
SPPG Linggar menyebut model prasmanan membutuhkan lebih banyak personel dan kendaraan dibandingkan sistem ompreng. Ahli gizi SPPG, Sesilia Indah Sabila, memperkirakan satu kendaraan operasional hanya dapat mendistribusikan makanan prasmanan untuk dua kelas.
Kebutuhan distribusi jadi tantangan perluasan
Menurut Sesilia, penerapan prasmanan di seluruh kelas pada 12 sekolah yang ditangani SPPG Linggar akan sulit dilakukan. Satu dapur juga melayani sekolah-sekolah lain, balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta sejumlah posyandu. Beban distribusi itulah yang membuat model baru ini tidak mudah diterapkan serentak.
Uji coba serupa juga disebut berlangsung di SDIT Al Kamilah, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sekolah itu mulai menerima MBG prasmanan pada Selasa (5/10). Namun, informasi yang tersedia mengenai pelaksanaan di sekolah tersebut belum cukup untuk menyimpulkan hasil maupun tantangannya.
BGN menyatakan model prasmanan dapat diperluas hingga 5.000 dapur sebelum akhir tahun apabila evaluasi dinilai positif. Keputusan itu akan bergantung pada hasil penilaian atas pelaksanaan di lapangan, termasuk kebutuhan logistik dan pengawasan.
Untuk menjawab kekhawatiran soal keracunan, perubahan dari ompreng ke meja saji perlu dilihat sebagai salah satu upaya, bukan jaminan bahwa risiko hilang. Keberhasilan perlu ditopang pengelolaan pangan yang aman dari dapur sampai sekolah, sekaligus sistem distribusi yang sanggup menjaga mutu makanan tanpa mengurangi pengawasan.


