Carlo Pernat menilai hasil MotoGP Mandalika memberi Marc Marquez alasan untuk tetap optimistis, sementara Marco Bezzecchi justru kehilangan kesempatan memperbesar keuntungan di klasemen. Bezzecchi memang memenangi balapan utama, Minggu, tetapi crash pada Sprint membuatnya gagal mengumpulkan poin sebanyak yang mungkin ia raih dari akhir pekan yang kuat.
Di Mandalika, Aprilia tampil dominan dengan menempatkan empat pembalapnya di posisi pertama hingga keempat. Bezzecchi memimpin balapan, disusul Raul Fernandez, Jorge Martin, dan Ai Ogura. Marquez, yang mengendarai Ducati, finis di posisi keenam.
Pernat melihat hasil itu dari dua sisi. Bagi Bezzecchi, kemenangan hari Minggu belum cukup menutup kerugian akibat Sprint. Sebaliknya, Marquez dinilai mampu menjaga peluang gelar karena tetap membatasi kehilangan poin di sirkuit yang selama ini tidak mudah baginya.
Bezzecchi menang, tetapi kehilangan poin di Sprint
Aprilia mengukir pencapaian penting lewat finis 1-2-3-4 di Mandalika. Pernat menyebut hasil tersebut sebagai tonggak sejarah bagi pabrikan asal Noale itu sekaligus bukti bahwa mereka kini menjadi penantang serius dalam perebutan gelar konstruktor.
“Balapan hari Minggu bisa dilihat dari dua sisi, gelas yang setengah penuh atau setengah kosong. Bagi Marc Marquez, ini jelas merupakan gelas yang setengah penuh,” ujar Pernat.
Menurutnya, Mandalika termasuk sirkuit yang diwaspadai Marquez. Performa Ducati di lintasan itu pun tidak terlihat terlalu kuat. Karena itu, finis keenam tanpa perubahan besar pada jarak poin di klasemen menjadi hasil yang relatif menyelamatkan bagi pembalap tersebut.
Bezzecchi menghadapi situasi berbeda. Kemenangannya di balapan utama terasa belum maksimal karena ia terjatuh dalam Sprint dan kehilangan poin berharga. Pernat menilai insiden itu membuat Bezzecchi tak mampu mengubah akhir pekan yang menjanjikan menjadi keuntungan klasemen yang lebih besar.
“Walaupun Bezzecchi secara matematis masih punya peluang, balapannya seperti gelas setengah kosong. Meski memenangkan balapan dengan meyakinkan, dia justru menjadi pihak yang paling banyak kehilangan poin,” kata Pernat.
Aprilia memimpin klasemen konstruktor
Dominasi Aprilia di Mandalika langsung berdampak pada persaingan konstruktor. Dengan kemenangan Bezzecchi dan Marquez yang finis keenam, Aprilia kini mengoleksi 503 poin, unggul 12 poin atas Ducati. Hasil ini mempertegas bahwa persaingan tidak lagi hanya berpusat pada pabrikan yang selama ini lebih dominan.
Di klasemen pembalap, Martin kembali berada di puncak dengan keunggulan dua poin atas Marquez. Bezzecchi masih punya peluang secara matematis. Dengan jarak yang rapat, Pernat menilai perebutan gelar dunia masih terbuka dan belum memiliki kandidat yang bisa dianggap aman.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya terhadap industri sepeda motor Italia. Menurut Pernat, keberhasilan Aprilia menempatkan empat motor di barisan terdepan menunjukkan kemampuan merek Italia bersaing di panggung MotoGP. Hasil tersebut, katanya, layak dirayakan sebagaimana pencapaian serupa dari pabrikan negara lain.
Pernat soroti performa Ducati sepanjang musim
Di balik keberhasilan Aprilia, Pernat menilai performa Ducati pada musim 2026 belum memenuhi ekspektasi. Ia menganggap hasil di Mandalika memperkuat keraguan terhadap kemampuan motor Ducati secara keseluruhan, bukan semata-mata performa satu pembalap.
Marquez finis 10,7 detik di belakang Bezzecchi. Pernat juga menyoroti bahwa pembalap Ducati lain, termasuk Fabio Di Giannantonio, berada dalam jarak yang relatif berdekatan. Baginya, kondisi itu menjadi alasan untuk memeriksa kemampuan motor, terutama ketika Aprilia mampu menguasai empat posisi teratas.
“Mereka harus mencari tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana cara menghentikan supremasi ini, yang terus terang saat ini memang milik Aprilia,” ujar Pernat.
Ia memperkirakan sejumlah seri berikutnya berpotensi menghadirkan persaingan yang lebih seimbang bagi berbagai motor, seperti Phillip Island, Sepang, Qatar jika jadi digelar, Portugal, dan Valencia. Namun, Pernat mengingatkan Aprilia juga telah menyia-nyiakan sejumlah peluang dalam perebutan gelar, terutama ketika Bezzecchi gagal mencetak poin.
Situasi di Mandalika memperlihatkan betapa tipisnya batas antara kemenangan dan kerugian dalam perebutan gelar. Bezzecchi perlu mengubah kecepatan menjadi poin secara konsisten, sementara Ducati harus menjawab tanda tanya soal daya saing motornya. Seri-seri berikutnya akan menjadi ujian penting bagi kedua kubu dalam persaingan yang masih terbuka.


