Menguap berulang saat tubuh terasa segar belum tentu berarti seseorang kurang tidur. Respons yang lazim dikaitkan dengan kantuk ini juga berhubungan dengan aktivitas otak, perubahan kewaspadaan, tekanan emosional, hingga efek obat tertentu.
Frekuensi menguap yang meningkat sesekali tidak otomatis menandakan penyakit. Namun, jika terjadi terus-menerus tanpa pemicu yang jelas, pola kemunculannya dan gejala lain yang menyertai patut diperhatikan.
Menguap berawal dari rangkaian aktivitas otak
Menguap merupakan respons tubuh yang melibatkan otot wajah dan rahang serta perubahan pada pola napas. Dorongannya tidak hanya muncul menjelang tidur. Rasa bosan, perubahan tingkat kewaspadaan, maupun ketegangan juga dapat memicunya.
Dalam penjelasan yang dikutip detik.com dari Psychology Today, sinyal menguap dikaitkan dengan nukleus paraventrikular atau PVN, bagian dari hipotalamus. Sinyal itu kemudian berhubungan dengan aktivitas sel saraf lain, termasuk di batang otak dan hipokampus, yang membantu menghasilkan gerakan menguap.
PVN juga menghasilkan hormon ACTH. Kadarnya meningkat selama tidur dan menjelang seseorang bangun, sehingga aktivitas di sekitar waktu tersebut dapat menjelaskan mengapa sebagian orang menguap pada pagi hari.
Menguap juga dapat menular. Dalam eksperimen yang dilakukan psikolog Steven Platek dan timnya di Drexel University, 65 mahasiswa menjalani tes yang mengukur empati, kemudian diamati saat menonton video orang menguap. Mahasiswa dengan skor empati lebih tinggi lebih sering ikut menguap dibandingkan peserta dengan skor lebih rendah. Temuan itu memberi petunjuk bahwa respons tersebut dapat berkaitan dengan interaksi sosial, bukan hanya kebutuhan tubuh untuk beristirahat.
Teori pendinginan otak masih berupa penjelasan
Salah satu gagasan yang dibahas dalam penelitian adalah peran menguap dalam mengatur suhu otak. Andrew Gallup dari Princeton University dan Gary Hack dari University of Maryland pernah mengemukakan teori bahwa gerakan menguap membantu mendinginkan otak. Menurut gagasan tersebut, perubahan gerak di sekitar sinus dan aliran darah pada kepala mungkin ikut memengaruhi suhu.
Eksperimen Gallup, seperti dikutip Psychology Today, menemukan bahwa kenaikan suhu otak yang cepat mendahului menguap, lalu suhu menurun setelahnya. Meski demikian, penjelasan termoregulasi ini tetap merupakan teori tentang fungsi menguap, bukan cara untuk memastikan seseorang mengalami gangguan tertentu.
OWRITE juga mengulas hubungan menguap dan pengaturan suhu dengan merujuk penelitian dalam jurnal Physiology & Behavior tahun 2008. Sementara tinjauan dalam jurnal Sleep and Breathing tahun 2022 menyebut frekuensi menguap dipengaruhi berbagai faktor dari dalam maupun luar tubuh. Orang dewasa rata-rata menguap sekitar sembilan kali sehari, meski jumlahnya dapat berbeda-beda.
Stres dan obat juga dapat memengaruhi frekuensi
Perubahan emosi bisa ikut muncul bersama kebiasaan menguap berulang. Stres, kecemasan, atau ketegangan berkaitan dengan perubahan aktivitas sistem saraf yang mengatur respons tubuh. Sejumlah penelitian fisiologis juga mencatat menguap dalam situasi yang menekan, misalnya sebelum seseorang menghadapi aktivitas yang menegangkan.
Obat-obatan tertentu dapat menjadi faktor lain. OWRITE menyebut beberapa obat yang memengaruhi sistem serotonin, termasuk jenis antidepresan, dapat menimbulkan menguap sebagai efek samping. Karena itu, perubahan frekuensi yang muncul setelah penggunaan obat sebaiknya dicatat dan disampaikan kepada tenaga medis. Jangan menghentikan atau mengubah pemakaian obat hanya berdasarkan dugaan sendiri.
Tinjauan ilmiah berjudul Yawning: Its Anatomy, Chemistry, Role, and Pathological Considerations tahun 2017 juga membahas menguap berlebihan pada sejumlah kondisi neurologis. Di antaranya migrain, epilepsi, multiple sclerosis, dan gangguan sistem saraf pusat. Kaitan tersebut tidak berarti setiap orang yang sering menguap mengalami salah satu kondisi itu.
Perhatikan pola dan gejala yang menyertai
Menguap sendiri merupakan respons fisiologis yang umum. Satu gejala ini tidak cukup untuk menentukan penyebab atau menegakkan diagnosis. Hal yang lebih berguna adalah memperhatikan seberapa sering menguap terjadi, kapan biasanya muncul, apakah ada perubahan setelah konsumsi obat, serta apakah terdapat keluhan lain.
Jika frekuensinya terus meningkat tanpa alasan yang diketahui, pemeriksaan medis dapat membantu mencari penyebab yang mendasari. Informasi mengenai waktu kemunculan dan perubahan yang dirasakan akan berguna saat berkonsultasi. Penilaian lebih lanjut diperlukan terutama bila kebiasaan tersebut muncul bersama gejala lain atau mengganggu kegiatan sehari-hari.


