Pemindaian pasien kanker di New York menemukan kaitan antara keberadaan lemak cokelat dan lebih sedikit catatan diagnosis depresi serta kecemasan. Namun, hasil penelitian terhadap lebih dari 100.000 pasien itu belum membuktikan bahwa jaringan lemak tersebut mencegah gangguan mental.
Dalam studi yang dimuat di jurnal Nature pada 14 Oktober 2026, peneliti menganalisis rekam medis dan hasil pemindaian 101.243 pasien Memorial Sloan Kettering Cancer Center. Lemak cokelat terdeteksi pada 8.897 orang. Dibandingkan pasien yang tidak memiliki jaringan itu pada pemindaian, kelompok tersebut memiliki odds diagnosis kecemasan 22 persen lebih rendah dan odds episode depresi tercatat 32 persen lebih rendah.
Angka itu menggambarkan hubungan dalam catatan kesehatan, bukan penurunan risiko yang telah terbukti disebabkan oleh lemak cokelat. Seperti dilaporkan IDN Times, penelitian ini mengamati data yang sudah tersedia, bukan menguji apakah perubahan pada jaringan tersebut membuat kondisi mental seseorang membaik.
Pemindaian kanker turut memperlihatkan lemak cokelat
Lemak cokelat berbeda dari jaringan lemak putih yang lebih banyak menyimpan energi. Sel-sel lemak cokelat menggunakan energi untuk menghasilkan panas, terutama ketika tubuh terpapar suhu dingin. Pada orang dewasa, jaringan ini dapat berada di sekitar leher, dada, ketiak, dan sepanjang tulang belakang.
PET/CT yang dipakai dalam perawatan kanker dapat membantu menampakkannya. Pemeriksaan ini menggunakan zat pelacak yang menyerupai glukosa. Lemak cokelat yang aktif menyerap zat tersebut sehingga dapat terlihat pada citra pemindaian, yang umumnya digunakan untuk membantu menilai kondisi pasien kanker.
Tim peneliti membandingkan temuan pencitraan dengan catatan kesehatan pasien. Setelah memperhitungkan faktor seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, serta jenis dan tahap kanker, kaitan dengan lebih sedikit diagnosis kecemasan dan depresi tetap terlihat.
Analisis tambahan menggunakan pembelajaran mesin memperkirakan volume dan aktivitas lemak cokelat pada sekitar 8.700 pasien. Aktivitas lebih tinggi, khususnya di area ketiak, berkaitan dengan sejumlah indikator kesehatan metabolik dan jantung yang lebih baik. Namun, temuan mengenai diagnosis gangguan mental berasal dari perbandingan pasien yang lemak cokelatnya terdeteksi dengan mereka yang tidak memilikinya pada pemindaian. Hasil itu bukan perbandingan berdasarkan tingkat aktivitas jaringan.
Hubungan belum menjelaskan penyebab
Pasien dengan lemak cokelat terdeteksi juga memiliki beberapa penanda metabolik yang lebih baik, termasuk kadar gula darah dan trigliserida yang lebih rendah. Sejumlah penanda peradangan mereka juga lebih rendah. Kondisi-kondisi tersebut mungkin berhubungan dengan hasil kesehatan mental, tetapi penelitian ini belum memastikan bagaimana kaitannya terjadi.
Ada batasan yang perlu diperhatikan. Peserta penelitian merupakan pasien yang menjalani pemeriksaan di sebuah pusat kanker, bukan sampel yang mewakili seluruh masyarakat. Mereka juga memiliki jenis kanker dan menerima pengobatan yang beragam. Walaupun beberapa faktor telah diperhitungkan, keadaan tersebut masih dapat memengaruhi hasil.
Karena peneliti menelaah data yang telah terkumpul, mereka tidak dapat memastikan urutan kemunculan kondisi. Belum diketahui apakah lemak cokelat lebih dulu hadir sebelum diagnosis gangguan mental, atau ada faktor lain yang ikut menjelaskan hubungan tersebut. Penelitian ini juga tidak menguji perubahan gejala pada pasien dari waktu ke waktu.
Losartan belum menjadi terapi gangguan mental
Tim turut melakukan eksperimen losartan pada sel lemak cokelat di laboratorium dan pada tikus. Pengujian itu berfokus pada aktivitas jaringan dan penggunaan energi, bukan pada kecemasan atau depresi. Karena itu, hasilnya tidak menjadi bukti bahwa losartan dapat mengobati gangguan mental dengan mengaktifkan lemak cokelat.
Temuan ini juga tidak menjadi alasan untuk menghentikan atau mengganti obat antidepresan. Peneliti masih perlu menguji hubungan tersebut pada kelompok tanpa kanker dan mengikuti peserta dalam rentang waktu tertentu. Dengan cara itu, penelitian berikutnya dapat menilai apakah lemak cokelat benar-benar berperan dalam kesehatan mental atau hanya muncul bersamaan dengan faktor lain.


