Daun kemangi kerap disantap sebagai lalapan karena aromanya yang segar. Ada pula yang mengandalkannya untuk mencegah bau badan. Namun, belum ada bukti klinis bahwa memakan kemangi bisa menghilangkan bau keringat. Aroma harum di mulut dan proses yang menyebabkan bau pada kulit merupakan dua hal berbeda.
Bau badan umumnya muncul saat bakteri di permukaan kulit menguraikan komponen dalam keringat. Keringat yang baru keluar sendiri biasanya tidak berbau tajam. Menurut penjelasan yang dikutip OWRITE dari Instituto Valenciano de Microbiologia, proses penguraian tersebut menghasilkan senyawa yang menimbulkan aroma kurang sedap.
Area ketiak lebih rentan karena memiliki banyak kelenjar apokrin dan menjadi tempat hidup mikroorganisme. Bau juga dapat dipengaruhi faktor lain, termasuk genetik, perubahan hormon, kebersihan tubuh, makanan, serta kondisi kesehatan tertentu. Karena penyebabnya beragam, mengonsumsi satu jenis bahan pangan belum tentu menyelesaikan masalah.
Aroma kemangi bukan bukti tubuh bebas bau
Kemangi, atau Ocimum basilicum, mengandung sejumlah senyawa bioaktif. Di antaranya eugenol, linalool, dan senyawa fenolik. Beberapa senyawa tersebut memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba dalam pengujian laboratorium. Temuan ini menjadi salah satu alasan kemangi dianggap mungkin berguna untuk menghambat mikroorganisme.
Namun, hasil uji terhadap senyawa atau minyak atsiri tidak otomatis membuktikan manfaat yang sama ketika daunnya dimakan. Setelah masuk ke tubuh, senyawa dalam makanan akan dicerna dan dimetabolisme. Dengan demikian, cara kerja bahan yang diuji langsung pada permukaan kulit tidak bisa disamakan dengan cara kerja kemangi setelah dikonsumsi.
Aroma khas daun yang tercium saat dikunyah juga tidak mengubah proses biologis di ketiak. Sensasi segar pada mulut dapat muncul karena komponen volatil dalam minyak atsiri kemangi, tetapi hal itu bukan tanda bahwa bakteri penyebab bau di kulit telah berkurang.
Riset menguji kemangi sebagai bahan deodoran
Potensi kemangi untuk menghambat bakteri pernah diteliti dalam konteks pemakaian luar. OWRITE mengutip penelitian di jurnal Bioedukasi Universitas Jember yang terbit pada Februari 2025. Studi tersebut menguji minyak atsiri daun kemangi dan kulit jeruk purut dalam sediaan deodoran semprot.
Pengujian itu melihat aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis. Hasilnya memberi gambaran bahwa minyak atsiri kemangi berpeluang dikembangkan sebagai salah satu bahan dalam produk deodoran. Akan tetapi, yang diuji adalah formulasi yang digunakan pada kulit, bukan konsumsi daun kemangi sebagai lalapan.
Perbedaan cara pemakaian ini penting. Deodoran yang mengandung bahan tertentu diterapkan pada area kulit yang menjadi sasaran, sedangkan makanan melewati pencernaan sebelum sebagian komponennya diserap. Temuan laboratorium tentang minyak atsiri karena itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa makan kemangi dapat mengatasi bau badan.
Jangan jadikan lalapan pengganti perawatan
Kemangi tetap dapat dinikmati sebagai bagian dari makanan, tetapi belum ada dasar klinis untuk menjadikannya solusi tunggal bagi bau badan. Klaim bahwa makan daun ini membuat tubuh bebas bau melampaui bukti yang tersedia. Penelitian tentang potensi antimikroba kemangi masih perlu dibedakan dari pembuktian manfaat konsumsi pada manusia.
Untuk mengurangi bau, kebersihan tubuh dan penggunaan produk yang memang ditujukan untuk perawatan badan lebih relevan daripada hanya mengandalkan lalapan. OWRITE juga mengingatkan agar kemangi tidak menggantikan deodoran, antiperspiran, atau perawatan kebersihan tubuh.
Bau badan yang sangat menyengat, muncul mendadak, atau tidak membaik meski kebersihan sudah dijaga sebaiknya diperiksakan ke dokter. Pemeriksaan dapat membantu mencari faktor yang mendasarinya, termasuk kemungkinan kondisi kesehatan tertentu. Sampai ada bukti klinis yang menilai konsumsi kemangi secara langsung, manfaatnya untuk mengatasi bau badan dari dalam tubuh belum dapat dipastikan.


