DreamHost mengungkap pencurian email dan kredensial pelanggan setelah peretas menyusup ke sistemnya sejak Agustus. Intrusi itu berlangsung berbulan-bulan sebelum diketahui perusahaan, yang baru menyadari serangan pekan lalu setelah gangguan layanan terjadi selama beberapa hari.
Dalam pemberitahuan kepada jaksa agung California, penyedia layanan web hosting tersebut menyebut pelaku memperoleh token sesi pelanggan. Token ini memungkinkan pengguna tetap masuk ke akun setelah memasukkan kata sandi. Jika jatuh ke tangan pihak lain, token dapat dipakai untuk mengakses sistem dengan menyamar sebagai pemilik akun.
Jumlah pasti pelanggan yang terdampak belum diumumkan. DreamHost menyatakan kelompok korban berjumlah “jauh di bawah 10%” dari seluruh basis penggunanya. Perusahaan memiliki sekitar 400.000 pelanggan berbayar di seluruh jaringannya, sehingga persentase yang tampak kecil itu tetap dapat mencakup banyak akun.
Token sesi membuat risiko berbeda dari pencurian kata sandi
Informasi yang dicuri mencakup alamat email dan kredensial pelanggan. Namun, keberadaan token sesi menambah persoalan: akses bisa dilakukan tanpa pelaku perlu mengetahui kata sandi, selama token tersebut masih dapat digunakan. Karena itu, pengaturan ulang kata sandi saja belum tentu menutup seluruh jalur akses yang terkait dengan sesi pengguna.
DreamHost menyebut telah mereset kata sandi sejumlah pelanggan selama periode gangguan. Perusahaan belum menjelaskan berapa akun yang terkena tindakan tersebut ataupun apakah semua token sesi yang terdampak telah dinonaktifkan. Informasi yang tersedia juga belum memerinci jenis kredensial yang dicuri.
Situasi ini membuat pelanggan belum bisa mengukur secara pasti tingkat risiko pada akun masing-masing. Mereka perlu mencermati pemberitahuan resmi DreamHost dan mengikuti arahan keamanan yang diberikan. Perusahaan belum menyampaikan angka korban yang lebih rinci.
Celah pada file manager belum diungkap
Menurut keterangan DreamHost, peretas memanfaatkan kerentanan pada file manager internal. Fitur tersebut digunakan pelanggan untuk menyimpan berkas. Perusahaan tidak mengungkap rincian teknis celah atau bagaimana pelaku mengeksploitasinya.
DreamHost juga menegaskan bahwa kerentanan itu tidak berkaitan dengan celah pada perangkat lunak PHP yang belakangan ramai dibicarakan. Penjelasan tersebut membatasi dugaan tentang pintu masuk serangan, tetapi belum menjawab bagaimana pelaku dapat bertahan di sistem selama berbulan-bulan.
Ketika dimintai tanggapan TechCrunch, juru bicara perusahaan tidak menjelaskan alasan intrusi baru terdeteksi pekan lalu. Ia menyatakan penyelidikan masih berlangsung. DreamHost juga belum memaparkan kapan tepatnya akses ilegal itu dihentikan atau langkah teknis apa yang diambil untuk menutup kerentanan pada file manager.
Jeda deteksi masih menjadi pertanyaan
Rentang waktu antara awal serangan pada Agustus dan penemuan pada pekan lalu menjadi salah satu bagian yang belum terang. Gangguan layanan berlangsung beberapa hari, sedangkan perusahaan mengungkap insiden pada Kamis pekan lalu. Bahan pemberitahuan yang dikutip Telset tidak menyebut tanggal kalender untuk peristiwa-peristiwa tersebut.
Pengungkapan itu juga belum menjelaskan apakah seluruh pelanggan yang terdampak telah diberi tahu secara langsung. Tanpa jumlah korban dan rincian token yang terekspos, pelanggan masih belum memiliki gambaran lengkap untuk menilai apakah akun mereka termasuk dalam insiden.
DreamHost mengatakan penyelidikan masih berjalan. Perusahaan belum mengumumkan hasil pemeriksaan atas celah file manager maupun jumlah pasti akun yang email dan kredensialnya diambil. Informasi lanjutan dari penyedia hosting itu akan menentukan seberapa luas dampak serangan dan pengamanan apa yang perlu dilakukan pelanggan.


