Jepang meluncurkan wahana Martian Moons eXploration (MMX) menuju Phobos, salah satu bulan Mars, menggunakan roket H3 dari Pusat Antariksa Tanegashima pada Oktober 2026. Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) menargetkan wahana itu membawa sampel material Phobos kembali ke Bumi pada 2031.
Misi ini dirancang untuk menyelidiki asal-usul Phobos dan Deimos, dua satelit alami Mars yang bentuknya tidak beraturan dan masih menyimpan banyak teka-teki. Sampel yang dikumpulkan langsung dari permukaan Phobos diharapkan memberi petunjuk tentang proses pembentukan satelit tersebut sekaligus sejarah awal tata surya.
MMX mencari petunjuk asal-usul bulan Mars
Para ilmuwan memiliki dua dugaan utama mengenai asal-usul Phobos dan Deimos. Keduanya mungkin merupakan asteroid yang tertangkap gravitasi Mars, atau terbentuk dari material yang terlontar ke orbit setelah sebuah benda langit menabrak planet itu.
Komposisi Phobos belum memberi jawaban yang pasti. Pengamatan sebelumnya menunjukkan beberapa karakteristik yang menyerupai asteroid purba, sementara hasil pengukuran lain mengindikasikan kemiripan dengan mineral di kerak Mars. Perbedaan petunjuk itu membuat pemeriksaan sampel langsung menjadi penting.
Phobos berdiameter sekitar 22 kilometer dan mengorbit relatif dekat dengan Mars. Deimos lebih kecil, dengan diameter sekitar 12 kilometer, serta berada pada orbit yang lebih jauh. Keduanya berukuran mungil dan gelap, sehingga pengamatan dari jauh belum cukup untuk mengurai bagaimana satelit-satelit itu terbentuk.
Material dari Phobos dapat membantu peneliti membandingkan kandungan satelit tersebut dengan batuan Mars dan asteroid. Hasil analisis laboratorium di Bumi diharapkan memperjelas apakah Phobos merupakan benda langit yang tertangkap atau terbentuk dari sisa tabrakan di sekitar Mars.
Perjalanan dan pengambilan sampel Phobos
MMX diperkirakan menempuh perjalanan sekitar satu tahun sebelum mencapai kawasan Mars. Wahana dijadwalkan tiba pada Agustus 2027 untuk memulai pengamatan, lalu mendekati orbit Phobos pada September tahun yang sama. Pengamatan dari orbit akan membantu JAXA menentukan lokasi pendaratan.
Tahap pengambilan sampel menjadi bagian paling menantang dalam misi ini. Gravitasi Phobos sangat lemah, sehingga wahana perlu mendarat dan kemudian meninggalkan permukaan dengan membawa material. Rencana misi mencakup dua kali pendaratan dan pengumpulan sampel dari dua lokasi, dengan target sedikitnya 10 gram.
MMX membawa dua perangkat pengambil sampel dengan cara kerja berbeda. C-sampler buatan JAXA dirancang mengambil material dari kedalaman sekitar dua hingga tujuh sentimeter. Sementara itu, P-sampler yang disumbangkan NASA menggunakan dorongan gas nitrogen untuk mengumpulkan material permukaan.
Sebelum wahana utama mendarat, rover Idefix yang dikembangkan oleh DLR Jerman dan CNES Prancis akan membantu memeriksa medan serta sifat mekanis tanah. Rover itu direncanakan beroperasi sekitar 100 hari. Informasi tersebut dapat menjadi bekal untuk menilai kondisi lokasi dan mendukung keselamatan operasi pendaratan.
Roket H3 diuji dalam misi antarplanet
Peluncuran MMX juga menjadi penerbangan antarplanet pertama roket H3 setelah kegagalan pada 2023. Roket tersebut dikembangkan sebagai penerus H-IIA dengan biaya peluncuran yang lebih rendah. Keberhasilan membawa MMX menuju Mars menjadi ujian penting bagi kemampuan H3 mengangkut muatan untuk misi ilmiah jarak jauh.
JAXA mengembangkan MMX bersama sejumlah mitra internasional, termasuk NASA, CNES, Badan Antariksa Eropa, DLR, dan Badan Antariksa Australia. Kolaborasi itu mencakup dukungan instrumen, rover, serta jaringan pelacakan antariksa dalam. Wahana juga dilengkapi kamera Super Hi-Vision yang dikembangkan JAXA bersama NHK untuk merekam gambar beresolusi 4K dan 8K.
Setelah menyelesaikan pengamatan dan pengambilan sampel, MMX direncanakan meninggalkan kawasan Mars pada November 2030. Sampel yang dibawa pulang pada 2031 akan memberi kesempatan bagi peneliti untuk menguji material Phobos dengan peralatan laboratorium di Bumi.
Hasil misi ini berpotensi menjawab pertanyaan lama tentang dua satelit Mars dan menyediakan data baru tentang bahan pembentuk tata surya. Bagi Jepang, keberhasilan MMX juga akan menjadi pembuktian kemampuan roket H3 dalam mendukung eksplorasi antariksa yang lebih jauh.


