Harga karet acuan SGX–SICOM pada Selasa, 20 Oktober 2026, turun tipis menjadi Rp46.014 per kilogram untuk kadar karet kering (KKK) 100%. Koreksi Rp41 per kg itu terjadi saat harga di pasar internasional melemah dan nilai tukar rupiah juga bergerak tipis, tetapi harga indikatif masih bertahan di atas Rp46.000 per kg.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Karet Indonesia (APKARINDO) Sumatera Selatan, Rudi Arpian, menyampaikan harga SGX–SICOM turun dari 256,4 menjadi 256,2 US cent per kg. Pada periode yang sama, kurs berubah dari Rp17.962 menjadi Rp17.960 per dolar AS.
Perubahan kedua angka tersebut menghasilkan penyesuaian harga indikatif dalam rupiah. Rudi menyebut, kombinasi harga karet internasional dan nilai tukar membuat acuan KKK 100% turun Rp41 dibandingkan hari sebelumnya.
Pergerakan harga dan kurs menekan acuan
Besaran koreksi pada Selasa relatif terbatas, baik pada harga SGX–SICOM maupun kurs. Harga internasional berkurang 0,2 US cent per kg, sedangkan kurs yang digunakan dalam perhitungan turun Rp2 per dolar AS. Hasil akhirnya, harga indikatif karet KKK 100% tercatat Rp46.014 per kg.
Angka tersebut merupakan harga acuan yang dihitung berdasarkan harga SGX–SICOM dan nilai tukar, bukan keterangan mengenai harga transaksi di setiap tingkat pembelian. Data yang disampaikan Rudi berfokus pada perhitungan untuk KKK 100%. Karena itu, angka tersebut perlu dibaca sebagai patokan indikatif sesuai kadar karet kering yang disebutkan.
Posisi harga yang masih berada di atas Rp46.000 per kg menjadi penanda bahwa pelemahan sehari itu belum membawa acuan menembus batas tersebut. Namun, pergerakan berikutnya menunjukkan harga dapat berubah cukup cepat ketika nilai SGX–SICOM dan kurs kembali bergerak.
Harga kembali naik pada Rabu
Pada Rabu, 21 Oktober 2026, acuan SGX–SICOM berbalik menguat. Harga naik dari 256,2 menjadi 258,1 US cent per kg, sementara kurs bergerak dari Rp17.960 menjadi Rp17.916 per dolar AS.
Menurut data Rudi, penguatan tersebut mendorong harga indikatif KKK 100% naik Rp227 menjadi Rp46.241 per kg. Dengan demikian, kenaikan pada Rabu lebih besar daripada koreksi Rp41 yang tercatat sehari sebelumnya. Harga pun mendekati Rp46.500 per kg, meski belum mencapai angka tersebut.
Perbandingan dua hari itu memperlihatkan bahwa perubahan harga dalam rupiah tidak hanya mengikuti satu komponen. Pada Selasa, harga acuan melemah tipis bersamaan dengan perubahan kurs; pada Rabu, kenaikan harga SGX–SICOM mengangkat perhitungan indikatif, meski kurs bergerak ke angka yang lebih rendah.
Koreksi berlanjut pada Kamis
Pergerakan kembali berubah pada Kamis, 22 Oktober 2026. Harga SGX–SICOM turun menjadi 256,0 US cent per kg dari 258,1 US cent per kg pada Rabu. Kurs pada saat yang sama berubah dari Rp17.916 menjadi Rp17.896 per dolar AS.
Harga acuan KKK 100% tercatat Rp45.814 per kg, terkoreksi Rp427 dari Rp46.241 per kg pada hari sebelumnya. Rudi menyampaikan bahwa penurunan harga SICOM yang disertai perubahan nilai tukar tersebut memengaruhi perhitungan harga acuan dalam rupiah.
Rentang pergerakan dari Selasa hingga Kamis memperlihatkan harga sempat bertahan di atas Rp46.000 per kg, naik pada Rabu, lalu turun kembali pada Kamis hingga berada di bawah batas itu. Perubahan harian ini menegaskan bahwa angka acuan perlu dilihat bersama perkembangan harga internasional dan kurs, bukan dari salah satunya saja.
Data tersebut memberi gambaran mengenai arah patokan harga karet, tetapi belum merinci harga yang diterima petani di setiap daerah. Pergerakan pada hari-hari berikutnya akan menentukan apakah acuan kembali mendekati Rp46.500 per kg atau masih menghadapi tekanan. Untuk membaca kondisi pasar secara utuh, perkembangan harga SGX–SICOM dan kurs tetap menjadi dua angka yang perlu dicermati.


