Indonesia berada di urutan ke-59 dari 103 negara dalam proyeksi tingkat pengangguran dunia pada 2026. Angkanya tercatat 4,7 persen, jauh di bawah Sudan yang menempati posisi tertinggi dengan 59 persen, tetapi masih melampaui Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Data tersebut berasal dari World Economic Outlook IMF edisi Oktober 2026. detikcom melaporkan, daftar itu juga dikutip dari Visual Capitalist. Angka Indonesia dalam proyeksi IMF berdekatan dengan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), yang mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen pada Mei 2026.
Menurut BPS, angka itu setara dengan sekitar 7,22 juta orang. Dengan demikian, dua catatan yang tersedia memperlihatkan tingkat pengangguran Indonesia berada di kisaran 4,7 persen, meski berasal dari lembaga dan periode pengukuran berbeda.
Sudan berada jauh di atas negara lain
Proyeksi IMF menempatkan Sudan sebagai negara dengan tingkat pengangguran paling tinggi, yakni 59 persen. Afrika Selatan menyusul dengan 33 persen. Selisih antara kedua negara itu pun cukup lebar, sementara angka Afrika Selatan masih jauh di atas negara-negara lain yang disebut dalam laporan tersebut.
detikcom mengaitkan tingginya angka Sudan dengan dampak ekonomi dari konflik berkepanjangan. Untuk Afrika Selatan, laporan itu menyebut persoalan struktural yang terus berlangsung sebagai salah satu latar yang membuat jutaan pekerja kehilangan pekerjaan. Angka-angka tersebut menggambarkan skala tantangan ketenagakerjaan yang tercatat di masing-masing negara.
Negara-negara Eropa juga muncul dalam kelompok dengan angka pengangguran tinggi. Georgia mencatat 13 persen dan disebut sebagai negara Eropa dengan tingkat tertinggi dalam daftar. Bosnia dan Herzegovina, Makedonia Utara, serta Ukraina turut disebut memiliki tingkat pengangguran tinggi di kawasan tersebut. Namun, angka untuk tiga negara terakhir tidak dicantumkan dalam laporan yang menjadi rujukan.
Posisi Indonesia dibanding negara tetangga
Dengan angka 4,7 persen, Indonesia berada di bawah negara-negara yang menempati peringkat teratas. Namun, tingkatnya lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang tercatat 3 persen, Singapura 2,1 persen, dan Thailand 1 persen. Dalam proyeksi tersebut, Thailand menjadi negara dengan tingkat pengangguran terendah di dunia.
Perbandingan itu memberi gambaran posisi Indonesia di antara negara yang disebutkan, tetapi tidak menjelaskan seluruh kondisi pasar kerja. Peringkat menunjukkan perbandingan angka pengangguran, sementara angka BPS memberi ukuran dalam jumlah orang yang tercatat menganggur. Kedua informasi itu perlu dibaca sesuai konteks dan periode datanya.
Perbedaan kecil antara proyeksi IMF sebesar 4,7 persen dan catatan BPS sebesar 4,65 persen juga tidak serta-merta menandakan perubahan besar. Yang satu merupakan proyeksi untuk 2026 dalam laporan IMF, sedangkan angka BPS merujuk pada data per Mei 2026. Karena itu, keduanya tidak sepenuhnya sama dari sisi waktu maupun sumber pencatatan.
Angka pengangguran bukan satu-satunya ukuran
Tingkat pengangguran menggambarkan bagian angkatan kerja yang belum memperoleh pekerjaan dalam ukuran yang digunakan oleh suatu data. Angka itu menjadi salah satu cara melihat keadaan ketenagakerjaan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh mutu pekerjaan atau pengalaman setiap pekerja. Bahan yang disampaikan tidak memuat rincian indikator lain untuk membandingkan kualitas pekerjaan antarnegara.
Untuk Indonesia, angka BPS memberikan gambaran konkret dari dalam negeri: TPT 4,65 persen pada Mei 2026, dengan sekitar 7,22 juta orang masuk dalam hitungan pengangguran. Sementara itu, posisi ke-59 dalam proyeksi IMF menempatkan angka tersebut pada perbandingan lintas negara. Kedua catatan itu melengkapi satu sama lain, selama perbedaan waktu dan jenis datanya tetap diperhatikan.
Dalam daftar yang dilaporkan, Indonesia tidak masuk kelompok dengan pengangguran tertinggi, tetapi angkanya masih berada di atas tiga negara tetangga yang disebut. Data IMF tersebut merupakan proyeksi 2026, sedangkan angka nasional terbaru yang dicantumkan dalam laporan merujuk pada Mei 2026. Perkembangan berikutnya dapat dilihat melalui pembaruan data BPS dan proyeksi ekonomi IMF.


