PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) membukukan pendapatan Rp1,6 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 53,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspansi gerai yang berlanjut ikut menopang pertumbuhan, tetapi produktivitas dan kemampuan menjaga margin menjadi perhatian di tengah laju penjualan yang mulai melambat.
Mandiri Sekuritas menilai momentum pertumbuhan FORE masih terjaga pada kuartal III 2026. Pendapatan selama Januari hingga September melampaui ekspektasi sekuritas tersebut, didukung penambahan gerai serta produktivitas gerai yang relatif stabil.
Namun, sejumlah indikator memperlihatkan tantangan di balik ekspansi. Margin laba kotor sedikit menurun, sementara margin EBIT melemah dari rekor pada kuartal II. Mandiri Sekuritas mengaitkan tekanan itu dengan perlambatan pertumbuhan penjualan di gerai yang sama atau same store sales growth (SSSG), yang turut menaikkan rasio beban operasional terhadap pendapatan.
Pendapatan dan EBITDA FORE meningkat
Selain pendapatan yang naik 53,3 persen menjadi Rp1,6 triliun, FORE mencatat EBITDA Rp342,2 miliar, tumbuh 70,6 persen secara tahunan. Margin EBITDA mencapai 21,4 persen, meningkat dari 19,3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih perusahaan bertambah 49,7 persen menjadi Rp90 miliar. Meski demikian, capaian laba bersih sembilan bulan tersebut sedikit di bawah perkiraan Mandiri Sekuritas. Penurunan pendapatan bunga, kenaikan beban bunga, dan normalisasi tarif pajak efektif disebut turut menekan hasil akhir.
Perusahaan juga menyebut penjualan bersih, laba kotor, dan EBITDA selama sembilan bulan pertama 2026 telah melampaui realisasi sepanjang tahun buku 2025. Angka itu menunjukkan pertumbuhan yang kuat, tetapi tidak menghapus pentingnya menjaga kualitas penjualan dan efisiensi operasional saat jaringan terus bertambah.
Pada semester I 2026, FORE sebelumnya membukukan pendapatan Rp1 triliun, naik 52 persen secara tahunan. EBITDA mencapai Rp216 miliar dengan margin 21,5 persen, dibandingkan 19,7 persen pada periode sama tahun lalu. Data tersebut memberi gambaran bahwa skala usaha yang meningkat sempat berjalan seiring dengan perbaikan margin.
Ekspansi gerai FORE menjangkau kota lapis kedua
Selama Januari-September 2026, FORE menambah lebih dari 70 gerai baru. Jumlah gerai aktif Fore Coffee di Indonesia mencapai 388, melampaui target awal pembukaan 70 gerai untuk sepanjang tahun. Lebih dari 55 persen gerai baru berada di kota Tier 2 dan Tier 3, sejalan dengan strategi memperluas jangkauan pasar.
Secara keseluruhan, grup mengoperasikan 410 gerai: 388 gerai Fore Coffee di Indonesia, lima gerai di Singapura, serta 17 gerai Fore Donut. Perluasan jaringan ini membuat produktivitas tiap lokasi dan waktu yang dibutuhkan gerai untuk mencapai profitabilitas menjadi faktor penting bagi kinerja ke depan.
Dalam menentukan lokasi, FORE mengandalkan sejumlah indikator, antara lain arus lalu lintas, kepadatan wilayah, profil demografi, fasilitas umum di sekitar lokasi, dan tingkat keterlihatan gerai. Perusahaan juga mengevaluasi kinerja gerai yang sudah beroperasi di area terkait serta mempertimbangkan target dan periode pengembalian modal setiap gerai.
Analisis data itu dilengkapi pemeriksaan langsung di lapangan. Tim operasional ikut menilai lokasi, mengamati kondisi sekitar, menggali informasi, dan menghitung potensi secara mandiri sebelum keputusan ekspansi ditetapkan.
Fore Donut tambah gerai dan produk baru
Fore Donut, yang diluncurkan pada September 2025, kini hadir di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Bandung, dan Surabaya. Pada Januari-September 2026, merek tersebut menambah 15 gerai: 11 di Jabodetabek serta masing-masing dua di Bandung dan Surabaya. Ekspansinya ke Bogor mencakup lokasi di Living World Kota Wisata dan Cibinong City Mall.
Perusahaan juga mengembangkan produk untuk mendukung perluasan pasar. Pada kuartal III 2026, Fore Donut meluncurkan Crumbs & Crunch Series untuk kategori donat dan The Layered Pairings untuk minuman. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan konsumen sekaligus mengembangkan portofolio grup.
Presiden Direktur Fore Kopi Indonesia Vico Lomar menyatakan fokus perusahaan bukan hanya menambah jaringan, tetapi juga meningkatkan produktivitas setiap gerai. Ia menyebut disiplin operasional, kualitas produk, tata kelola, dan penggunaan dana hasil IPO secara prudent sebagai bagian dari komitmen perusahaan.
Dengan jaringan yang terus tumbuh, tantangan FORE berikutnya adalah memastikan gerai baru mampu berkontribusi secara sehat tanpa menggerus margin. Perkembangan SSSG, biaya operasional, dan produktivitas gerai akan menjadi sejumlah indikator penting untuk menilai apakah ekspansi tersebut dapat berlanjut secara berkelanjutan.


