Huang, turis asal China berusia 25 tahun, bersembunyi di semak-semak selama sekitar empat setengah jam setelah mengaku mengalami pelecehan di sebuah resor di Semporna, Sabah, Malaysia. Ia melarikan diri dari kamarnya pada dini hari dan baru ditemukan staf resor sekitar pukul 08.00 waktu setempat.
Huang sedang menginap di resor tersebut saat berlibur pada Senin (19/10). Ia membayar 1.000 yuan atau sekitar Rp 2,7 juta untuk kamar. Menurut laporan media Says yang dikutip detikTravel, seorang pria yang diduga petugas keamanan resor masuk ke kamarnya pada malam hari ketika Huang sedang tidur.
Huang terbangun dan menyadari dirinya berada dalam situasi berbahaya. Ia mengatakan pria itu melecehkannya. Huang berusaha melawan dan mencari kesempatan untuk keluar dari kamar.
Upaya kabur berujung persembunyian di semak-semak
Untuk mengalihkan perhatian pria tersebut, Huang berpura-pura meminta agar ia mandi. Namun, kesempatan itu tidak langsung membawanya keluar dengan aman. Pria tersebut sempat menarik rambut Huang dan menyeretnya, sebelum ia akhirnya berhasil melepaskan diri.
Huang kemudian berlari menuju area lereng yang dipenuhi semak-semak di sekitar resor. Ia mulai bersembunyi sekitar pukul 03.30. Dalam kondisi ketakutan, ia tidak berani kembali ke bangunan resor dan bertahan di antara tanaman hingga pagi.
Persembunyian itu berlangsung sekitar empat setengah jam. Selama berada di sana, tubuh Huang digigit semut dan nyamuk. Ia juga mengalami luka, termasuk di bagian tubuh yang kemudian terkena gigitan serangga. Huang hanya bisa menunggu sambil berharap ditemukan dalam keadaan selamat.
Staf resor akhirnya menemukan Huang sekitar pukul 08.00. Meski berhasil keluar dari situasi yang ia anggap berbahaya, pengalaman itu meninggalkan rasa takut yang mendalam. Dalam unggahan di platform Douyin, Huang menceritakan kejadian tersebut dan mengatakan masih merasa takut, bahkan ketika hendak memejamkan mata.
Huang menyoroti keamanan penginapan
Dalam ceritanya, Huang menyinggung bahwa biaya menginap yang tinggi tidak serta-merta menjamin keamanan tamu. Ia telah membayar sekitar Rp 2,7 juta untuk satu penginapan, tetapi tetap merasa berada dalam bahaya setelah pria yang diduga petugas keamanan itu masuk ke kamarnya.
Pengalaman tersebut membuat perhatian tertuju bukan hanya pada harga dan fasilitas resor, melainkan juga pada perlindungan tamu serta penanganan laporan dugaan pelecehan. Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, belum ada keterangan rinci mengenai bagaimana pria tersebut dapat masuk ke kamar atau langkah internal yang telah diambil resor.
Kasus ini turut mendapat perhatian dari Kedutaan Besar China. Dewan Pariwisata Sabah dilaporkan telah bertemu dengan Huang, sedangkan pemerintah negara bagian Sabah memantau perkembangan perkara tersebut. Informasi yang dihimpun belum menyebutkan adanya kesimpulan resmi mengenai dugaan tindakan pria itu.
Penanganan kasus diserahkan kepada pengacara
Pihak resor disebut telah menghubungi Huang. Meski demikian, Huang menyatakan belum menerima kompensasi. Ia juga telah menyerahkan penanganan persoalan tersebut kepada pengacaranya.
Dengan proses yang masih berjalan, sejumlah hal penting belum mendapat penjelasan terbuka, termasuk tindak lanjut atas laporan Huang dan tanggapan resmi resor terhadap dugaan tersebut. Pemantauan pemerintah Sabah dan keterlibatan Kedutaan Besar China menjadi bagian dari perkembangan kasus yang kini menunggu penanganan lebih lanjut.
Bagi Huang, dampak peristiwa itu tidak berhenti saat dirinya ditemukan pagi hari. Ia masih mengaku takut setelah kejadian tersebut. Sementara itu, publik menanti penjelasan dan tindak lanjut dari pihak terkait agar kronologi serta penanganan insiden di resor Semporna ini menjadi lebih terang.