Konflik antar-superkoloni semut Argentina di California Selatan telah berlangsung selama puluhan tahun. Di dekat Danau Hodges, utara San Diego, para peneliti memperkirakan sekitar 15 juta semut pekerja tewas dalam bentrokan perbatasan yang diamati selama enam bulan.
Angka itu bukan jumlah korban dalam satu bentrokan singkat. Penelitian mencatat pertempuran yang terus berlangsung di kawasan perbatasan, dengan kematian yang menumpuk selama masa pengamatan. Meski banyak semut gugur, garis wilayah kedua pihak nyaris tidak berubah.
Temuan ini menggambarkan konflik yang keras sekaligus buntu: koloni-koloni terus berhadapan, tetapi tidak ada yang secara konsisten merebut wilayah lawannya. Perbandingan dengan perang parit pada Perang Dunia Pertama pun muncul karena garis depan bertahan tanpa banyak pergeseran.
Superkoloni semut Argentina membagi wilayah California
Aktor dalam konflik ini adalah semut Argentina, atau Linepithema humile. Spesies tersebut berasal dari Amerika Selatan, tetapi menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk California, setelah terbawa muatan kapal pada masa pelayaran trans-Atlantik. Penyebaran itu terjadi sepanjang abad ke-19 dan mungkin telah dimulai sebelumnya.
Semut Argentina dikenal teritorial dan agresif terhadap semut dari kelompok lain. Mereka menggunakan antena serta sinyal kimiawi untuk mengenali apakah semut yang ditemui merupakan kerabat atau berasal dari luar koloni. Perbedaan identitas itu dapat memicu perkelahian.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Molecular Ecology pada 2006 menyebut California Selatan dihuni lima superkoloni yang saling bersaing. Superkoloni terbesar menguasai jaringan sarang yang saling terhubung secara longgar di sepanjang sekitar 1.000 kilometer pesisir California. Wilayahnya berbatasan dengan setidaknya tiga dari empat kelompok yang lebih kecil.
Perbatasan di antara kelompok-kelompok itu bisa sangat dekat—kadang hanya terpisah beberapa meter. Ketika semut dari dua wilayah bertemu, bentrokan dapat pecah di garis tersebut. Para peneliti dari UC San Diego melaporkan pertempuran terjadi dalam 40 persen kunjungan lapangan, dengan rata-rata sekitar 15.000 semut mati pada setiap pertempuran yang tercatat.
Korban menumpuk, tetapi garis wilayah tak banyak bergerak
Di sekitar salah satu koloni kecil dekat Danau Hodges, skala kematian jauh lebih besar. Selama enam bulan penelitian, para peneliti memperkirakan sedikitnya 15 juta semut pekerja tewas dalam konflik perbatasan di kawasan itu. Dari pengamatan tersebut, mereka menilai jumlah semut yang mati di seluruh wilayah selama puluhan tahun mungkin mencapai miliaran.
Namun, besarnya korban tidak berbanding lurus dengan perubahan wilayah. Selama berbulan-bulan pengamatan, batas antarkoloni hanya sedikit maju-mundur dan tidak menunjukkan adanya satu pihak yang terus menang. Pertempuran berulang menghasilkan banyak korban, tetapi tidak membawa perluasan wilayah yang berarti.
Situasi itu mengingatkan pada kebuntuan di Blok Barat selama Perang Dunia Pertama. Pasukan yang berhadapan saling menyerang dari garis depan yang nyaris tidak bergeser dalam waktu lama. Perbandingan tersebut digunakan untuk menggambarkan pola konflik dan kebuntuan, bukan untuk menyamakan skala maupun dampaknya dengan perang manusia.
Mengapa konflik semut ini sulit berakhir?
Dalam tulisan untuk Scientific American pada 2011, ahli biologi Mark W. Moffett menjelaskan bahwa semut Argentina tidak menunjukkan dear enemy effect. Pada sejumlah hewan teritorial, efek ini membuat individu mengurangi agresi terhadap tetangga yang sudah dikenal setelah lama berkonflik. Jika ketegangan mereda, batas wilayah yang lebih tenang dapat terbentuk.
Menurut Moffett, pola itu tidak berlaku pada semut Argentina. Di habitat asalnya di Amerika Selatan, semut-semut tersebut kerap bersaing memperebutkan dataran banjir. Koloni dapat saling menyerang, lalu berhenti ketika air pasang. Konflik pun tidak benar-benar terselesaikan, sehingga mereka kembali berhadapan ketika keadaan memungkinkan.
Di California, pola persaingan antarkoloni itu terlihat dalam pertempuran yang berulang di sepanjang garis batas. Meski berlangsung pada skala yang jauh lebih kecil daripada perang manusia, konflik ini menunjukkan bagaimana persaingan wilayah dapat terus berjalan tanpa menghasilkan pemenang yang jelas.
Pengamatan di San Diego juga memperlihatkan bahwa jumlah korban saja tidak cukup untuk menunjukkan siapa yang unggul. Selama garis perbatasan tetap bertahan, pertanyaan tentang kapan konflik ini mereda masih terbuka—dan para peneliti perlu terus memantau bagaimana koloni-koloni itu berinteraksi di masa mendatang.

