BTC USD sempat bangkit dari kisaran US$81.000 menuju US$84.000, tetapi pemulihan itu belum diikuti kembalinya trader ritel ke pasar futures Bitcoin. Permintaan pembelian langsung di pasar spot menjadi penopang utama, sementara investor yang menggunakan leverage dan pembeli ETF masih menahan diri.
Data yang dihimpun TradingView menunjukkan harga Bitcoin sempat menyentuh sekitar US$81.000 pada Senin sebelum bergerak naik. Dalam salah satu laporan, BTC tercatat diperdagangkan di sekitar US$83.400 dan sempat mencapai US$84.000. Pergerakan harga tersebut terjadi ketika sentimen ritel di Stocktwits masih berada di zona bearish, dengan percakapan tentang Bitcoin tergolong rendah.
Pola ini memperlihatkan jarak antara pemulihan harga dan minat pasar terhadap risiko. Bitcoin memang mendapat dorongan dari pembeli spot, tetapi belum tampak dukungan luas dari trader berjangka maupun investor ETF.
Pembeli spot menopang pemulihan Bitcoin
Analis Ted Pillows menilai rebound Bitcoin didukung oleh permintaan nyata di pasar spot. Dalam unggahan di X, ia menyebut pemulihan berbentuk huruf V itu disertai permintaan spot yang kuat. Pembelian spot berarti investor memperoleh Bitcoin secara langsung, bukan mengambil posisi dengan dana pinjaman di pasar futures.
Indikasi tersebut terlihat pada kenaikan spot cumulative volume delta (CVD) agregat. Metrik ini mencerminkan dominasi transaksi beli atau jual; ketika garisnya bergerak naik, tekanan beli dinilai lebih kuat. Namun, penguatan indikator itu belum cukup untuk mengubah sikap trader ritel yang masih cenderung berhati-hati.
Data likuidasi turut menggambarkan penggunaan leverage yang masih membawa risiko. CoinGlass mencatat posisi Bitcoin senilai US$145,84 juta dilikuidasi dalam rentang 12 jam hingga Selasa. Sekitar 68,3 persen dari nilai tersebut berasal dari posisi long, yakni taruhan bahwa harga akan naik.
Likuidasi terjadi ketika bursa menutup paksa posisi berleverage karena jaminan trader tidak lagi memadai. Ketika harga bergerak berlawanan dengan posisi, mekanisme ini dapat memperbesar kerugian dan mempercepat perubahan harga di pasar.
Arus ETF dan gejolak pasar menambah tekanan
Investor ETF Bitcoin spot juga belum menunjukkan dorongan masuk yang kuat. Produk-produk tersebut mencatat arus keluar bersih sebesar US$681,10 juta pada pekan sebelumnya, menurut data SoSoValue. Pada Senin, arus keluar berlanjut sebesar US$65,40 juta, tanpa satu pun dari 12 dana yang mencatat aliran masuk.
Analis kripto James Check menilai investor mulai menjual saat harga melemah. Di tengah permintaan spot yang menopang rebound, arus keluar ETF menjadi tanda bahwa sebagian pelaku pasar masih memilih mengurangi eksposur, bukan mengejar kenaikan harga.
Tekanan juga datang dari pasar saham Korea Selatan. Indeks KOSPI sempat turun hingga 6,08 persen dan jatuh di bawah 6.000, dipimpin saham SK Hynix dan Samsung Electronics. Tom Lee dari Fundstrat memperingatkan gejolak tersebut berpotensi merembet ke aset kripto jika kerugian dan likuidasi di perusahaan pialang mendorong investor Korea menjual aset lain.
Kontrak perpetual yang mengikuti harga saham SK Hynix juga mencatat kerugian US$6,29 juta dalam 24 jam, menurut CoinGlass. Sebanyak 98,22 persen kerugian itu berasal dari posisi long. Meski bukan kontrak Bitcoin, data tersebut menunjukkan tekanan pada perdagangan berleverage meluas ke aset lain.
Volatilitas Bitcoin belum mereda
Dalam laporan pasar pada waktu berbeda, Bitcoin kembali tertekan dan diperdagangkan di sekitar US$83.700 setelah turun lebih dari 3 persen dalam 24 jam. Pada laporan lain, harga sempat merosot di bawah US$81.000 dan memicu likuidasi hampir US$1 miliar di pasar kripto. Angka-angka itu berasal dari pengamatan pada waktu yang berbeda, bukan satu pergerakan yang berlangsung serentak.
Penurunan di bawah US$81.000 tersebut terjadi ketika harga minyak naik dan ketegangan geopolitik menambah tekanan terhadap aset berisiko. CoinGlass mencatat total likuidasi kripto mencapai US$974 juta dalam 24 jam, dengan posisi long menyumbang US$896 juta. Bitcoin dan Ethereum menjadi aset dengan nilai likuidasi terbesar.
Pergerakan harga juga menjalar ke saham yang terkait dengan industri kripto. Saham Strategy, Coinbase, dan Block melemah dalam perdagangan tengah hari, sementara sejumlah perusahaan penambang Bitcoin ikut tertekan. Kenaikan imbal hasil obligasi dan kebutuhan pendanaan untuk ekspansi infrastruktur menjadi faktor yang membebani sebagian perusahaan tersebut.
Untuk BTC USD, pemulihan yang ditopang pembeli spot memberi sinyal bahwa permintaan belum hilang. Namun, arus keluar ETF, sentimen ritel yang bearish, dan likuidasi posisi berleverage menunjukkan pasar belum kembali solid. Arah berikutnya akan bergantung pada apakah pembeli spot mampu bertahan sekaligus menarik minat investor dan trader yang sejauh ini masih memilih menunggu.


