Vaksin influenza dapat diberikan sepanjang tahun, tetapi masyarakat dianjurkan mendapatkannya sebelum kasus biasanya meningkat pada September hingga Januari. Imbauan ini disampaikan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM, saat mengingatkan risiko penyakit pernapasan pada peralihan musim kemarau ke hujan.
Menurut Sukamto, kenaikan influenza A, terutama tipe H1N1, terpantau tahun ini. Vaksinasi menjadi salah satu upaya perlindungan, dengan pemberian ulang setiap tahun karena virus influenza terus mengalami perubahan. ANTARA News Riau melaporkan, kekebalan tubuh memerlukan waktu sekitar dua minggu untuk terbentuk setelah vaksin disuntikkan.
Karena itu, orang yang belum mendapat vaksin tidak perlu menunggu musim hujan berlalu. Vaksin tetap bermanfaat diberikan sekarang, meski waktu idealnya sebelum periode kenaikan kasus.
Perlindungan perlu disesuaikan dengan risiko
Influenza A menular melalui percikan pernapasan. Gejalanya dapat berupa demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan badan lemas. Keluhan tersebut perlu diperhatikan, terutama jika dialami orang dengan kondisi yang membuat mereka lebih rentan terhadap komplikasi.
Ancaman penyakit pernapasan pada masa peralihan musim tidak hanya berasal dari influenza. Sukamto juga mengingatkan keberadaan Respiratory Syncytial Virus (RSV) dan COVID-19, yang penyebarannya dapat terjadi melalui saluran pernapasan. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia turut menjadi perhatian, khususnya bagi lansia serta orang dengan penyakit penyerta.
Kelompok yang dianjurkan mendapat perhatian dalam vaksinasi mencakup orang berusia di atas 60 tahun, pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes, gangguan jantung, paru dan ginjal, serta orang dengan penyakit autoimun. Ibu hamil, tenaga kesehatan, dan orang yang kerap bepergian atau bekerja di tempat ramai juga masuk kelompok yang disarankan berkonsultasi mengenai vaksin.
“Tahun ini kami memang melihat kenaikan kasus influenza A, terutama tipe H1N1. Karena itu vaksin yang paling utama adalah vaksin influenza. Vaksin ini perlu diulang setiap tahun karena virusnya terus berubah,” kata Sukamto kepada ANTARA di Jakarta.
Pilihan vaksin lain bergantung kondisi
Vaksin influenza bukan satu-satunya pilihan perlindungan. Vaksin pneumokokus dapat dipertimbangkan untuk membantu mencegah penyakit pneumokokus, termasuk pneumonia. Sementara vaksin COVID-19 ditujukan bagi kelompok berisiko, dengan pertimbangan kondisi dan kebutuhan masing-masing orang.
Sukamto juga menyebut vaksin dengue yang tersedia bagi kelompok usia hingga 45 tahun, sesuai indikasi dan ketentuan penggunaannya. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir, vaksin tifoid dan hepatitis A dapat dipertimbangkan dengan memperhatikan kemungkinan paparan serta rekomendasi tenaga kesehatan.
Ragam pilihan tersebut bukan berarti semua orang perlu menerima seluruh vaksin. Penentuan jenis vaksin sebaiknya memperhitungkan keadaan kesehatan dan kebutuhan individu. Masyarakat dapat meminta pertimbangan tenaga kesehatan untuk mengetahui vaksin yang sesuai bagi dirinya, terutama bila memiliki penyakit kronis atau termasuk kelompok rentan.
Kebiasaan harian tetap perlu dijaga
Perlindungan melalui vaksinasi perlu berjalan bersama kebiasaan hidup sehat. Sukamto menyarankan tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mencakup sayur dan buah, memenuhi kebutuhan cairan, serta tetap aktif bergerak. Kebiasaan mencuci tangan juga perlu dilakukan secara konsisten.
Orang yang sedang batuk atau pilek dianjurkan memakai masker untuk mengurangi peluang menularkan penyakit kepada orang lain, khususnya saat berada di keramaian atau berdekatan dengan kelompok rentan. Langkah ini menjadi relevan ketika aktivitas di dalam ruangan meningkat, sebab sejumlah virus pernapasan dapat menyebar melalui jalur tersebut.
Vaksin influenza tetap bisa diberikan meski periode peningkatan kasus sudah berlangsung. Namun, karena tubuh memerlukan waktu untuk membentuk kekebalan, masyarakat yang mempertimbangkannya dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan tanpa menunda-nunda.


